13 Oct 2026 · @boas sababang
Tiga Puluh Siswa dan Sarapan yang Hilang
Bayangkan sebuah tabel dengan tiga puluh baris. Setiap baris adalah seorang anak: nomor ID, jenis kelamin, cara anak itu berangkat ke sekolah (jalan kaki, bersepeda, naik motor), berapa menit perjalanannya, dan satu kolom terakhir: apakah anak itu sarapan hari ini?
Tabel ini rekaan, dibuat untuk mata kuliah pendidikan guru di Indonesia, tetapi jika dibaca pelan-pelan ia bekerja seperti kisah detektif.
Enam belas anak menempuh perjalanan kurang dari tiga puluh menit, dan keenam belasnya sarapan. Sepuluh anak menempuh lebih dari tiga puluh menit, dan tak seorang pun dari mereka sarapan. Sebelas dari empat belas pengendara motor berangkat tanpa sarapan; keenam belas anak yang berjalan kaki atau bersepeda semuanya sarapan.
Naluri kita adalah segera menyelesaikan kalimatnya: perjalanan yang jauh membuat mereka melewatkan sarapan. Mata kuliah itu meminta kalimat yang lebih berdisiplin: pada tiga puluh anak ini, perjalanan jauh dan sarapan yang terlewat terjadi bersamaan. Mengapa keduanya terjadi bersamaan, tidak tertulis di dalam tabel.
Jarak kecil antara “terjadi bersamaan” dan “menyebabkan” itulah pokok artikel ini. Itu pula, menurut saya, salah satu hal paling berharga yang bisa dipelajari seorang anak di Indonesia, atau di mana pun, untuk dilihat.
Paradoks: Penasaran, Terhubung, tetapi Tertinggal
Anak-anak Indonesia tampak luar biasa penasaran dan luar biasa terhubung, namun sebagian besar belum mencapai kemampuan dasar dalam keterampilan yang ingin dibangun sekolah.
Pada September 2026 OECD merilis PISA 2025, putaran terbesarnya sejauh ini, dengan 91 negara dan ekonomi peserta. Anak usia 15 tahun Indonesia mendapat skor 389 untuk sains dan 365 untuk membaca, masing-masing naik enam poin dari 2022, serta 364 untuk matematika, turun dua poin. OECD tidak menganggap perubahan ini signifikan secara statistik. Satu hitungan regional menempatkan Indonesia di peringkat 73 dari 91 untuk sains, 74 dari 90 untuk membaca, dan 78 dari 90 untuk matematika. Sementara itu, di seluruh OECD, nilai membaca dan matematika turun ke rata-rata terendah yang pernah dicatat PISA. Masalah Indonesia bukan kemerosotan mendadak, melainkan jarak yang bertahan.
| Bidang | Skor Indonesia 2025 | Perubahan dari 2022 | Siswa Indonesia di Level 2 ke atas | Rata-rata OECD di Level 2 ke atas |
|---|---|---|---|---|
| Sains | 389 | +6 | 37% | 74% |
| Membaca | 365 | +6 | 27% | 69% |
| Matematika | 364 | -2 | 17% | 65% |
Sumber: editorial Jakarta Post; GoodStats, mengutip OECD.
Sekarang sisi lain dari neraca itu. Dalam survei yang sama, 80% siswa Indonesia menggambarkan diri mereka penasaran terhadap banyak hal, dibandingkan rata-rata OECD 73%, dan 74% mengatakan mereka terus mencoba ketika belajar terasa sulit (GoodStats). Kementerian pendidikan Indonesia, yang merangkum data OECD, menyatakan anak usia 15 tahun Indonesia menunjukkan “salah satu tingkat rasa ingin tahu tertinggi” dan relatif lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan mata pelajaran konvensional (rilis kementerian).
Mereka juga daring. Asosiasi penyelenggara jasa internet APJII mencatat penetrasi internet 79,5% pada 2024, dan 87% di kalangan Generasi Z. Namun studi dasar UNICEF menemukan bahwa hanya 37,5% anak Indonesia yang pernah menerima informasi tentang cara tetap aman di dunia maya, dan 42% pernah merasa tidak nyaman atau takut karena sesuatu yang mereka temui di sana.
Jadi ada dua paradoks: penasaran tetapi tertinggal, dan terhubung tetapi minim bimbingan. Tidak satu pun angka ini menunjukkan bahwa satu hal menyebabkan hal lain, dan artikel ini tidak akan berpura-pura demikian. Yang ditunjukkannya adalah jarak antara memiliki akses pada informasi dan memiliki kebiasaan untuk mempertanyakannya. Jarak itulah yang justru hendak ditutup oleh berpikir komputasional.
Dari Berhitung ke Komputasi: Bagaimana Manusia Belajar Berpikir Bertahap
Berpikir komputasional bukan keterampilan gawai yang baru; ia adalah bab terbaru dari kebiasaan manusia yang sangat tua, yaitu mengubah sebuah masalah menjadi langkah-langkah.
Kebiasaan itu kuno. Euklides menuliskan cara bertahap untuk mencari faktor persekutuan terbesar dua bilangan sekitar 2.300 tahun lalu, dan cara itu masih diajarkan sampai sekarang. Kata “algoritma” sendiri berasal dari nama cendekiawan Persia abad kesembilan, al-Khwarizmi. Pada 1843 Ada Lovelace menerbitkan serangkaian operasi untuk Mesin Analitik rancangan Charles Babbage, yang banyak dianggap sebagai program pertama yang ditulis untuk sebuah mesin. Pada 1980 buku Mindstorms karya Seymour Papert berpendapat bahwa anak-anak tidak sekadar diajar oleh komputer, tetapi seharusnya memakainya sebagai “objek untuk berpikir”.
Istilah yang menghimpun semua itu di bawah satu panji muncul pada 2006, ketika ilmuwan komputer Jeannette Wing menerbitkan sebuah esai pendek di Communications of the ACM. Klaimnya berani: “Pada membaca, menulis, dan berhitung, kita harus menambahkan berpikir komputasional ke dalam kemampuan analitis setiap anak.”
Wing sama jelasnya tentang apa yang bukan berpikir komputasional. Ia adalah “mengonsep, bukan memprogram”. Ia adalah “cara manusia memecahkan masalah”, bukan upaya membuat manusia berpikir seperti komputer. Contoh sehari-harinya adalah seorang anak yang mengemas tas: “ia memasukkan ke tasnya benda-benda yang ia perlukan hari itu; itulah prefetching dan caching.”
Kurikulum Indonesia sendiri memakai versi praktis dari gagasan yang sama. Buku panduan guru Informatika kelas 7 dari kementerian menyebut bahwa berpikir komputasional mencakup empat unsur: dekomposisi, abstraksi, algoritma dan pengenalan pola.
Keempat unsur itu mudah dikenali dalam tabel sarapan tiga puluh siswa. Memecah tiga puluh baris menjadi enam variabel adalah dekomposisi. Menyisihkan jenis kelamin dan ID untuk berfokus pada lama perjalanan dan sarapan adalah abstraksi. Menyadari bahwa perjalanan jauh dan sarapan yang terlewat berjalan bersama adalah pengenalan pola. Mengikuti urutan langkah yang sama (amati, bertanya, kelola, representasikan, temukan pola, simpulkan) adalah algoritma untuk berpikir, yang bisa diulang kelas lain pada data mereka sendiri.
Pola Bukan Sebab: Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dikatakan Tiga Puluh Anak
Kalimat terpenting yang bisa dipelajari seorang analis muda adalah “kedua hal ini terjadi bersamaan”, dan disiplin terpentingnya adalah berhenti di situ sampai ada bukti untuk melangkah lebih jauh.
Kembali ke tabel sarapan. Jika dikelompokkan menurut lama perjalanan, hasilnya seperti ini:
| Lama perjalanan | Jumlah anak | Sarapan | Tidak sarapan |
|---|---|---|---|
| Kurang dari 30 menit | 16 | 16 | 0 |
| Tepat 30 menit | 4 | 3 | 1 |
| Lebih dari 30 menit | 10 | 0 | 10 |
Rata-rata perjalanan anak yang sarapan adalah 19,5 menit; untuk anak yang tidak sarapan, 38,6 menit. Sebelas dari empat belas pengendara motor melewatkan sarapan, sedangkan keenam belas anak yang berjalan kaki atau bersepeda semuanya sarapan. Yang dapat disimpulkan persis begini: pada tiga puluh anak ini, perjalanan yang lebih lama dan sarapan yang terlewat terjadi bersamaan.
Yang tidak dapat disimpulkan justru lebih menarik. Data tidak menyatakan bahwa perjalanan itu menyebabkan sarapan terlewat. Data bahkan tidak menyatakan mana yang lebih tepat sebagai penjelasan, jarak atau kendaraan, karena keduanya saling terjalin: setiap anak yang menempuh tiga puluh menit atau lebih naik motor, dan tidak ada pengendara motor yang menempuh waktu lebih singkat. Faktor ketiga bisa saja yang bekerja, seperti berangkat lebih pagi, rumah yang belum bisa memasak pada jam itu, atau jadwal kerja orang tua. Tabel ini juga menyimpan kejutan kecil. Delapan anak mengatakan akan memilih nasi atau roti untuk sarapan, tetapi hari ini tidak sarapan; kedelapannya naik motor selama tiga puluh sampai empat puluh menit.
Lalu ada soal skala. Datanya fiktif, hanya tiga puluh baris, dan hanya satu pagi. Ini sebuah latihan, bukan temuan tentang Indonesia.
Ini bagian yang menggembirakan. Makalah penting tahun 2004 di Psychological Review karya Alison Gopnik, Clark Glymour, dan rekan-rekannya melaporkan bahwa anak usia dua sampai empat tahun dapat membangun “peta kausal” tentang hubungan antarperistiwa, belajar dari pola korelasi dan juga dari akibat intervensi mereka sendiri. Dengan kata lain, naluri untuk bertanya “apa yang terjadi kalau saya mengubahnya?” sudah ada. Tugas sekolah adalah memberinya kosakata dan metode.
Untuk teka-teki sarapan ini, langkah berikutnya bukan kesimpulan yang lebih besar, melainkan pertanyaan yang lebih baik. Bagaimana kalau sekolah masuk lima belas menit lebih siang? Pola adalah tempat penyelidikan dimulai. Karena itulah mata kuliah di balik tabel ini berakhir dengan rantai sederhana: data, pertanyaan, pola, wawasan, keputusan.
Apa Kata Riset: Bisakah Berpikir Bertahap Diajarkan?
Bukti terbaik yang tersedia mengatakan bisa, dengan satu peringatan yang sama pentingnya dengan klaimnya.
Sintesis terkuat berasal dari Scherer, Siddiq, dan Sánchez Viveros, yang pada 2019 menggabungkan 105 studi dan 539 ukuran efek dalam Journal of Educational Psychology untuk menanyakan apakah belajar memprogram mengubah cara siswa berpikir. Rata-rata efek transfer tergolong sedang (g = 0,49). Transfer dekat, yaitu peningkatan keterampilan yang dekat dengan pemrograman itu sendiri, termasuk berpikir komputasional, tergolong kuat (g = 0,75). Transfer jauh, yaitu peningkatan di bidang lain, tergolong sedang (g = 0,47). Efek positif paling jelas terlihat pada berpikir kreatif, keterampilan matematika, dan metakognisi, disusul keterampilan spasial dan penalaran. Prestasi sekolah dan literasi mendapat manfaat paling kecil.
Peringatannya ada dalam abstrak yang sama. Studi yang membandingkan peserta dengan kelompok kontrol tanpa perlakuan menunjukkan efek lebih besar daripada studi yang membandingkannya dengan anak-anak yang menerima pengajaran lain. Satu pembacaan yang masuk akal adalah bahwa sebagian manfaat yang tampak berasal dari kenyataan bahwa melakukan sesuatu yang baru mengalahkan tidak melakukan apa-apa. Pembacaan yang jujur karena itu bukanlah “belajar koding membuat anak lebih pintar”, melainkan “kegiatan komputasional yang dirancang dengan baik secara andal membangun berpikir komputasional dan dapat menunjang jenis berpikir lain, meskipun tidak sebesar yang disiratkan judul-judul berita”.
Satu batas lagi layak disebut dalam uraian yang serius: sebagian besar bukti ini berasal dari studi atas pelajar di luar Indonesia, sehingga ruang kelas Indonesia perlu evaluasinya sendiri.
Itu pula sebabnya pendekatan dalam lembar kerja sarapan menjanjikan untuk sekolah dasar. Ia tidak memerlukan komputer. Ia hanya memakai tabel, pertanyaan, pensil, dan percakapan, dan melatih hal yang paling penting: bergerak dari “apa yang saya lihat?” ke “apa yang boleh saya klaim?”
Satu celah bukti layak ditandai karena hasil PISA 2025. Asesmen Learning in the Digital World yang baru dari OECD mengukur kemampuan siswa memecahkan masalah dengan perangkat komputasional sambil mengelola belajar mereka sendiri. Kementerian Indonesia menyatakan siswanya relatif lebih baik di sana dibandingkan mata pelajaran konvensional. Jika tabel lengkap OECD memastikannya, itu akan menunjukkan kekuatan yang bisa dikembangkan, bukan kekurangan yang harus diperbaiki.
Momentum Indonesia: Pintunya Terbuka, Ruang Kelas Harus Menyusul
Indonesia sudah menyelesaikan sebagian besar masalah akses, dan pintu kebijakan bagi berpikir komputasional mulai terbuka; yang tersisa adalah apa yang terjadi di dalam ruang kelas.
Dari sisi akses, angkanya mencolok. Porsi anak usia 15 tahun yang bersekolah formal naik dari sekitar 46% pada 2003 menjadi 90% pada 2025, perubahan yang oleh dewan redaksi Jakarta Post dikaitkan dengan investasi berkelanjutan selama dua dekade. Editorial yang sama berpendapat bahwa prioritas berikutnya adalah mutu belajar, dan bahwa anggaran harus dijaga agar anak-anak benar-benar belajar.
Dari sisi kebijakan, berpikir komputasional sudah ada di kurikulum. Informatika jenjang menengah pertama mencantumkannya sebagai unsur inti, sebagaimana ditunjukkan buku panduan guru kelas 7 dari kementerian. Pada Juli 2025, Antara melaporkan bahwa Peraturan Menteri 13/2025 menjadikan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) mata pelajaran pilihan, diterapkan bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026 dan menjangkau sekolah dasar kelas atas. Tujuannya adalah meningkatkan literasi digital, pemecahan masalah, dan kesadaran etis dalam penggunaan teknologi. Laporan berbeda-beda tentang tepatnya kelas berapa tiap fase dimulai, jadi sekolah sebaiknya memeriksa peraturannya langsung.
Di lapangan, kendalanya nyata. Menurut rangkuman GoodStats atas data OECD, 37% siswa Indonesia berusia 15 tahun bersekolah di sekolah yang dibatasi bahan belajar dan 39% oleh infrastruktur fisik. Di sinilah pendekatan tanpa perangkat (unplugged) membuktikan gunanya: tabel data, pertanyaan yang baik, dan beberapa stiker di papan dapat membangun kebiasaan yang sama tanpa laptop.
Rangkuman yang sama melaporkan bahwa 53% siswa Indonesia memakai chatbot AI untuk belajar setidaknya seminggu sekali, dan kementerian menyatakan mereka lebih sering memeriksa kredibilitas konten buatan AI dibandingkan siswa di banyak negara lain. Itu membuat pelajaran dari tabel sarapan semakin mendesak, bukan semakin longgar. Sebuah chatbot bisa menghasilkan penjelasan yang lancar tentang mengapa perjalanan jauh membuat anak melewatkan sarapan. Anak yang dilatih sebagai detektif data akan bertanya apa sebenarnya yang ditunjukkan datanya.
Seperti apa ini di kelas 4 SD? Setiap anak menempelkan satu stiker di papan untuk cara mereka berangkat ke sekolah dan stiker kedua untuk lama perjalanannya: dekat, sedang, atau jauh. Stiker ketiga mencatat, tanpa nama, apakah mereka sudah sarapan. Guru mengatakan “belum” dan bukan “tidak”, karena pagi setiap anak berbeda dan tidak boleh ada anak yang merasa dihakimi. Kelas lalu membaca papan itu seperti detektif. Apa yang kita lihat? Apa yang kita kira sedang terjadi? Apa yang belum kita ketahui? Pertanyaan guru yang terpenting datang terakhir: bagaimana kita bisa mencari tahu? Urutan sederhana itu melatih dekomposisi, abstraksi, pengenalan pola, dan algoritma yang bisa diulang, hanya dengan kertas dan rasa ingin tahu.
Tiga langkah praktis menyusul dari bukti di atas.
- Mulai dari pertanyaan, bukan rumus. Analisis dimulai dari apa yang ingin kita ketahui, bukan dari perhitungan.
- Ajarkan tangga klaim. Amati, temukan pola, ajukan alasan, uji. Jangan melompati anak tangga.
- Evaluasi secara lokal. Sebagian besar riset tentang pengajaran berpikir komputasional berasal dari luar Indonesia, sehingga sekolah-sekolah Indonesia sebaiknya mengukur apa yang berhasil bagi murid mereka sendiri dan membagikan hasilnya.
Untuk Anak-Anak Indonesia: Pertanyaanmu Adalah Awal Segalanya
Angka-angka dalam artikel ini menggambarkan posisi pendidikan Indonesia hari ini, bukan apa yang bisa menjadi seorang anak.
Jika kamu berusia sepuluh tahun di Indonesia pada 2026, kamu akan berusia sekitar dua puluh sembilan tahun ketika negaramu memperingati seratus tahun kemerdekaan pada 2045. Keputusan-keputusan pada dekade itu akan dibuat oleh orang-orang yang belajar berpikir pada tahun-tahun ini, dan itu berarti kamu.
Inilah yang dikatakan data tentang kamu, dan datanya mengatakannya dengan baik. Ketika anak usia lima belas tahun ditanya, 80% menggambarkan diri mereka penasaran terhadap banyak hal, dan 74% mengatakan mereka terus mencoba ketika belajar terasa sulit. Itu bukan hal kecil. Rasa ingin tahu adalah mesin dari setiap pertanyaan yang baik, dan ketekunan adalah yang mengubah pertanyaan menjadi jawaban. Keterampilan yang masih berkembang, seperti bernalar dengan angka dan memeriksa klaim, justru jenis keterampilan yang bisa dilatih, diajarkan, dan ditingkatkan. Riset tentang berpikir komputasional menunjukkan bahwa berpikir bertahap bisa dipelajari, dan paling berguna jika diajarkan dengan baik.
Jadi jadilah detektif data. Simpan tiga pertanyaan di sakumu.
- Apa yang sebenarnya ingin saya ketahui? Mulailah dengan pertanyaan, bukan dengan perhitungan.
- Apa yang sebenarnya ditunjukkan datanya? Hitung, kelompokkan, bandingkan, dan gambarkan apa yang kamu lihat.
- Apa yang tidak ditunjukkannya? Ketika dua hal terjadi bersamaan, tanyakan apakah yang satu menyebabkan yang lain, apakah ada hal lain di balik keduanya, atau apakah itu hanya kebetulan.
Pertanyaan ketiga adalah yang tersulit, sekaligus yang paling berharga. Ia melindungimu dari desas-desus, dari jawaban yang terdengar pintar tetapi kosong, dan dari angan-anganmu sendiri. Ia juga menjadikanmu jenis orang yang dibutuhkan sebuah negara: seseorang yang bisa memandang setumpuk informasi lalu berkata dengan tenang, “inilah yang kita ketahui, inilah yang tidak kita ketahui, dan inilah cara kita bisa mencari tahu.”
Kamu hidup di dunia layar yang penuh jawaban. Keunggulanmu bukanlah bisa menemukan informasi lebih cepat daripada siapa pun. Keunggulanmu adalah bisa bertanya apa arti informasi itu. Teruslah bertanya.
Sumber
Literatur ilmiah
- Wing, J. M. (2006). Computational thinking. Communications of the ACM. Teks lengkap
- Scherer, R., Siddiq, F., & Sánchez Viveros, B. (2019). The cognitive benefits of learning computer programming: A meta-analysis of transfer effects. Journal of Educational Psychology, 111(5), 764–792. Catatan dan abstrak
- Gopnik, A., Glymour, C., Sobel, D. M., Schulz, L. E., Kushnir, T., & Danks, D. (2004). A theory of causal learning in children: Causal maps and Bayes nets. Psychological Review, 111(1). Teks lengkap
Sumber resmi dan kelembagaan
- OECD. PISA 2025 Learning in the Digital World
- OECD (September 2026). Siaran pers: kinerja membaca dan matematika siswa turun tajam di seluruh OECD (hanya judul dan ringkasan)
- Kemendikdasmen (8 September 2026). PISA 2025: skor literasi dan sains naik, akses pendidikan meningkat
- Kemendikbudristek. Buku Panduan Guru Informatika SMP Kelas VII
- UNICEF Indonesia (2025). Online knowledge and practice of children in Indonesia: baseline study 2023
Liputan berita dan data
- Dewan Redaksi The Jakarta Post (23 September 2026). Learning first
- GoodStats. Skor PISA 2025 Indonesia membaik di sains dan membaca, matematika justru turun
- SEAsia (13 September 2026). What does PISA 2025 reveal about education in Southeast Asia
- Antara News (31 Januari 2024). APJII: penetrasi internet di Indonesia mencapai 79,5 persen
- Antara News (22 Juli 2025). Permendikdasmen 13/2025: Koding dan AI resmi masuk kurikulum 2025/2026
Catatan tentang data: tabel sarapan tiga puluh siswa adalah bahan ajar fiktif dari mata kuliah pendidikan guru sekolah dasar, dan setiap angka yang diambil darinya dihitung ulang langsung dari tabel.





Leave a Comment