Yogyakarta – Lebih dari empat dekade setelah terbit, Adam Ma’rifat karya Danarto masih menjadi salah satu kumpulan cerita pendek paling sulit diklasifikasikan dalam sastra Indonesia modern. Buku tipis setebal 72 halaman terbitan Balai Pustaka tahun 1982 ini memuat enam cerpen yang mempertemukan malaikat, komputer, penari kecak, dan Tuhan dalam satu panggung cerita. Pembaca tidak diajak mengikuti alur yang runtut, melainkan diundang menyelam ke dunia simbol tempat batas antara yang nyata dan yang gaib sengaja dilebur.
Artikel ini mengulas isi buku, latar kejawen-sufistik penulisnya, serta menghubungkannya dengan teori sastra dan penelitian ilmiah yang pernah membedahnya.
Sekilas Buku: Enam Cerpen dalam Satu Kumpulan
Adam Ma’rifat merangkum enam cerita pendek yang ditulis pada rentang 1975 hingga 1981. Buku berukuran 15 x 21 sentimeter itu bersampul gambar kuda bersayap berkepala perempuan berambut panjang yang bermahkota, sebuah gambaran yang sejak awal memberi isyarat tentang dunia yang akan dimasuki pembaca.
Keenam judulnya adalah “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat” (11 Maret 1975), “Adam Ma’rifat” (3 September 1975), “Megatruh” (28 Maret 1978), “Lahirnya Sebuah Kota Suci” (17 September 1980), “Bedoyo Robot Membelot” (7 April 1981), serta satu cerpen yang berjudul berupa gambar not balok dengan tanda bunyi “ngung-ngung” dan “cak-cak-cak” dan tidak mencantumkan tanggal penulisan.
Nama kumpulan ini diambil dari salah satu cerpen di dalamnya. Pada 1982, buku tersebut mengantarkan Danarto meraih Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta. Beberapa cerpen di dalamnya, termasuk “Adam Makrifat” dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat”, sebelumnya sudah dimuat di majalah sastra Horison.
Keenam cerita menyoal dunia gaib dan pengalaman mistik yang dituturkan dalam bentuk dongeng. Ada kisah tentang malaikat Jibril yang menghadirkan dunia anak-anak, ada tafsir tentang kota suci, ada pula perenungan tentang hakikat tarian Bedoyo. Hampir setiap benda dan peristiwa yang disebut membawa makna simbolik.
Posisi Buku dalam Perjalanan Kepengarangan Danarto
Untuk menempatkan Adam Ma’rifat secara tepat, ada baiknya melihat deretan karya Danarto lainnya. Kajian pustaka pada sebuah skripsi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung mencatat antologi cerpennya antara lain Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982), Berhala (1987), dan Gergasi (1996), selain Setangkai Melati di Sayap Jibril. Dalam deretan itu, Adam Ma’rifat kerap dibaca sebagai buku yang mengawali kisah sufistik Danarto, yang kemudian berlanjut pada Berhala.
Reputasi Danarto sudah terbentuk jauh sebelum buku ini terbit. Cerpen-cerpennya dimuat berkali-kali di majalah Horison, dan sebagian karyanya masuk ke antologi From Surabaya to Armageddon (1975) yang disusun Harry Aveling, sehingga pembaca berbahasa Inggris pun mengenalnya. Karyanya juga pernah muncul di majalah Budaya dan Westerly, majalah yang terbit di Australia. Artinya, hadiah DKJ 1982 bukan kemunculan tiba-tiba, melainkan pengakuan atas jalan panjang seorang pengarang yang sejak awal memilih jalan berbeda.
Penulis Korrie Layun Rampan, sebagaimana dikutip Sawali Tuhusetya (2007), menyebut Danarto sebagai pembaru dalam khazanah sastra Indonesia. Tuhusetya sendiri menilai julukan itu bukan slogan kosong, karena cerpen-cerpen Danarto menampilkan kebaruan yang berbeda dari cerpen-cerpen yang pernah ada. Arief Budiman, yang menulis kata pengantar untuk antologi ini, menempatkan karya-karya Danarto dalam arus sastra profetik dan sufistik, sebuah pembacaan yang kemudian diikuti banyak peneliti.
Pembacaan itu juga mengingatkan bahwa sastra sufistik di Indonesia bukan hal baru. Artikel pada jurnal Kajian Linguistik dan Sastra menyebut sastra sufistik sebagai jenis sastra yang cenderung mengungkapkan keyakinan dari dunia tasawuf, dengan akar yang dapat ditelusuri hingga Hamzah Fansuri. Danarto melanjutkan benang itu, tetapi mengganti bentuk puisi dan hikayat lama dengan cerpen modern yang eksperimental.
Danarto dan Akar Kejawen-Sufistik
Danarto lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 27 Juni 1941. Selain menulis, ia dikenal sebagai perupa dan pekerja seni pertunjukan, latar yang membuat prosanya terasa visual dan teatrikal. Ia dibesarkan dalam alam pikir kejawen, atau tasawuf kejawen, sebuah ruang batin tempat ajaran Islam sufistik dan kearifan Jawa saling meresap.
Dalam sebuah wawancara yang terarsip di laman Pustaka Taratsa, Danarto mengakui pengaruh tokoh-tokoh sufi seperti Rumi dan Rabi’ah al-Adawiyah terhadap tulisannya. Pengakuan ini sejalan dengan temuan para peneliti bahwa sensibilitas tasawuf menjadi landasan utama karyanya.
Tradisi tasawuf di Jawa punya sejarah panjang. Simuh (Sufisme Jawa) menguraikan bagaimana ajaran tasawuf Islam mengalami transformasi menjadi mistik Jawa, sehingga istilah-istilah sufi bertemu dengan konsep lokal seperti sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan segala yang ada). Antropolog Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960) juga mencatat betapa lapisan mistik, Islam, dan tradisi pra-Islam saling berkelindan dalam kehidupan religius masyarakat Jawa. Danarto menulis dari tradisi itu, tetapi tidak sebagai penjaga adat. Ia menulis sebagai pencari.
Dongeng untuk Orang Dewasa: Tafsir Subagio Sastrowardoyo
Kritikus dan penyair Subagio Sastrowardoyo (1989) menyebut cerpen-cerpen dalam kumpulan ini sebagai dongeng untuk orang dewasa. Menurutnya, dongeng itu lahir dari renungan Danarto ke dalam cermin batinnya sendiri sebagai manusia Indonesia yang dibesarkan dalam alam pikir kejawaan.
Subagio menekankan bahwa kejawaan yang dimaksud bukan jiwa yang sudah membeku dalam pola adat dan tata cara yang kaku. Yang tampak justru jiwa yang masih resah dan bergerak, berusaha menemukan kembali wawasan hidup yang kekal.
Ragam bercerita Danarto, kata Subagio, membawa sastra kembali ke bentuk pengucapan paling sederhana dan purba, sehingga pembaca merasa berhadapan dengan dunia dongeng. Namun dongeng ini bukan untuk anak-anak. Ia ditujukan bagi jiwa dewasa yang sudah tersepuh getirnya pengalaman dan guncangan budaya.
Sebagaimana dongeng, logika dan rasio tidak menjadi hukum utama di dalam cerita. Identitas individu menjadi kabur. Manusia, hewan, benda mati, bahkan zat kimia saling bertegur sapa. Tuhan pun tampil sebagai salah satu pelaku. Batas antara Khalik dan makhluk seakan terhapus.
Panteisme, Manunggaling Kawula-Gusti, dan Wahdat al-Wujud
Subagio menilai cara pandang itu berakar pada pandangan filsafat-religius yang lebih pokok: segala sesuatu, baik hidup maupun mati, tampak maupun tak tampak, adalah perwujudan Yang Mahatunggal. Dalam kerangka mistik Jawa, gagasan ini bertemu dengan konsep manunggaling kawula-Gusti, yakni bersatunya hamba dengan Tuhan.
Pembahasan kritis di blog Sawali Tuhusetya (2007), yang menelaah absurditas cerpen Danarto, menyebut doktrin penyatuan hamba dan Tuhan sebagai pancaran wahdat al-wujud yang terus menjadi titik berangkat Danarto untuk menyalakan doktrin sufinya. Wahdat al-wujud atau kesatuan wujud merupakan konsep yang lekat dengan pemikir sufi Ibn Arabi, dan telah banyak dibahas, antara lain oleh Annemarie Schimmel dalam Mystical Dimensions of Islam (1975).
Di sinilah letak daya tarik sekaligus kesulitan buku ini. Karena segala hal adalah penjelmaan Yang Satu, tokoh-tokoh Danarto tidak bisa dibatasi oleh kategori biasa. Malaikat bisa berbicara layaknya anak kecil, dan mesin bisa berperilaku seperti makhluk bernyawa.
Kajian lain yang bersandar pada perspektif tasawuf datang dari skripsi Moh. Fairuzzabady (2008) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan pendekatan filsafat dan penelitian kepustakaan, ia menyimpulkan bahwa cerpen-cerpen dalam Adam Ma’rifat menggambarkan pengalaman ma’rifat, yaitu pengenalan langsung hamba kepada Tuhan melalui mata hati. Ia juga menarik garis ke bidang akhlak: karena akhlak seorang ‘arif dianggap pancaran sifat-sifat Allah, ajaran dalam cerpen Danarto dinilai relevan bagi pendidikan akhlak tasawuf.
Enam Cerpen, Enam Pintu Simbol
Membaca Adam Ma’rifat mirip memasuki rumah dengan enam pintu. Masing-masing membuka ruang yang berbeda, tetapi semuanya terhubung oleh benang simbolik yang sama.
Cerpen berjudul gambar not balok, misalnya, menunjukkan bahwa bukan hanya roh yang bisa merasuki penari kecak. Komputer pun dapat membuat orang kesurupan. Bunyi “ngung” dan “cak” yang diucapkan terdengar seperti suara mobil yang dipacu lalu dikendurkan pedal gasnya. Waktu dan peristiwa saling bertukar tempat tanpa urutan, sehingga yang sungguh terjadi dan yang tidak sungguh terjadi berbaur secara rancu.
Cerpen “Bedoyo Robot Membelot” mempertemukan tarian sakral Jawa dengan robot, tanda bahwa Danarto tidak menutup mata terhadap teknologi. Ia justru memasukkannya ke dalam percakapan spiritual. Cerpen tentang malaikat Jibril menghadirkan dunia anak-anak untuk berbicara tentang hal-hal besar, sementara “Lahirnya Sebuah Kota Suci” menawarkan tafsir tentang kota suci yang tak terikat pada peta.
Cerpen “Adam Ma’rifat” sendiri berbicara tentang pengetahuan hakiki mengenai kehidupan. Wieranto (1984) menyebut buku ini sebagai wirid modern karena hakikat Adam Ma’rifat diungkapkan dengan pengenalan yang melebar. Menurutnya, teknik penyajian yang tak lazim dalam cerpen-cerpen tersebut harus dibaca sebagai tanda yang perlu diberi makna jelas. Danarto sendiri, dalam salah satu wawancaranya, menyatakan bahwa yang ia sajikan adalah simbol-simbol.
Sebuah ulasan di Internet Archive atas karya-karya Danarto yang bertumpu pada Adam Ma’rifat juga mencatat penggunaan kalimat-kalimat panjang dan gaya mirip ayat kitab suci. Gaya itu dikaitkan dengan pengaruh budaya kejawen dan mistisisme tasawuf.
Foregrounding: Ketika Bahasa Menjadi Pesan
Selain isi, bentuk bahasa buku ini juga telah diteliti. Mukti Widayati (2017) dalam jurnal Stilistika mengkaji foregrounding pada judul dan bahasa dalam Adam Ma’rifat. Konsep foregrounding, yang dikembangkan antara lain oleh Jan Mukařovský dari aliran strukturalisme Praha, merujuk pada penyimpangan atau penonjolan unsur bahasa agar pembaca terpaksa memperhatikannya. Gagasan ini berhubungan dengan defamiliarisasi ala Viktor Shklovsky, yaitu upaya membuat hal yang biasa tampak asing.
Hasil penelitian Widayati menunjukkan bahwa judul dan simbolisasi dalam kumpulan ini menjelajahi dunia kebatinan dan mistisisme, baik yang otentik maupun religius. Simbol-simbol tersebut mengungkapkan sikap religius yang tunduk pada kemahakuasaan Tuhan, mengikuti panggilan cinta kasih, serta memandang manusia sebagai makhluk fisik sekaligus psikis dari alam raya. Dalam pembacaan itu, materi tidak dipandang sebagai musuh, melainkan sebagai medan keterlibatan manusia.
Dari sisi bahasa, Widayati mencatat banyaknya repetisi, baik pada kata, frasa, kalimat, maupun paragraf. Pengulangan ini berfungsi menegaskan intensitas pesan sekaligus melahirkan daya magis. Teknik tersebut mengingatkan pada cara dzikir dan wirid bekerja: kata yang diulang bukan sekadar informasi, melainkan sarana mengubah keadaan batin.
Realisme Magis, Surealisme, dan Absurditas
Banyak pembaca bertanya, termasuk dalam kategori apakah cerpen-cerpen Danarto? Para peneliti menawarkan beberapa jawaban.
Pertama, realisme magis. Sebuah artikel dalam Jentera: Jurnal Kajian Sastra (2018, vol. 7 no. 1) membandingkan kumpulan cerpen Godlob karya Danarto dengan novel Cala Ibi karya Nukila Amal. Studi itu menemukan bahwa realisme magis dalam cerpen Danarto bertumpu pada filosofi mistik Jawa, seperti konsep sangkan paraning dumadi, mulih mulanira, dan manunggaling kawula-gusti. Dengan kata lain, unsur ajaib dalam karyanya bukan sekadar bumbu fantasi, melainkan lahir dari kosmologi yang diyakini.
Pendekatan ini sejalan dengan kerangka teori yang dihimpun Lois Parkinson Zamora dan Wendy B. Faris dalam Magical Realism: Theory, History, Community (1995). Dalam kerangka itu, realisme magis ditandai oleh hadirnya hal-hal gaib yang diterima begitu saja sebagai bagian dari kenyataan, sering kali bersumber dari cara pandang budaya tertentu. Penelitian Rif’atul Latifatus Syahroh (2020) di IAIN Kediri atas antologi Setangkai Melati di Sayap Jibril juga menyebut aliran realisme magis sebagai ciri gaya kepenulisan Danarto, dengan pesan dakwah yang disampaikan secara implisit.
Kedua, absurditas. Sawali Tuhusetya (2007) menilai Danarto menciptakan dunia alternatif dengan “prelogika” yang harus dilogikakan sendiri oleh pembaca. Danarto, menurutnya, hanya memberi arah, mirip pandangan Iwan Simatupang bahwa pengarang hanyalah penunjuk jalan. Ia juga menyinggung dugaan bahwa Danarto lebih mengandalkan intuisi daripada rasio.
Ketiga, yang fantastik. Teori Tzvetan Todorov dalam The Fantastic (1975) menyebut genre fantastik berdiri di titik keraguan pembaca antara penjelasan alamiah dan supranatural. Dalam Adam Ma’rifat, keraguan itu hampir tak muncul, sebab dunia gaib diterima sebagai kenyataan yang lebih luas. Karena itulah pembacaan sufistik lebih menjelaskan ketimbang pembacaan fantastik semata.
Penelitian Arianie dan kawan-kawan (2020) dalam Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya tentang novel Asmaraloka menguatkan pola ini. Mereka menggambarkan Danarto sebagai pengarang yang mengaburkan batas realitas sehari-hari dan fantasi, dan menyebut Adam Makrifat sebagai salah satu karyanya yang memadukan unsur mistik Islam.
Jejak Penelitian Ilmiah: Dari Hermeneutika hingga Analisis Wacana
Karya Danarto menjadi bahan kajian lintas pendekatan. Beberapa temuan penting layak dicatat.
Baihaqi dan Imran, dalam artikel di KnE Social Sciences, menganalisis pendekatan transendental pada cerpen-cerpen pilihan Danarto dengan analisis isi yang merujuk pada Fraenkel dan Wallen (2012). Mereka menyimpulkan bahwa karya-karya itu bertumpu pada tasawuf kejawen yang terbentuk melalui pengalaman spiritual, religius, mistik, dan ilahiah yang kemudian menjadi tema.
Irmalasari (2017) di Universitas Negeri Makassar memakai hermeneutika Paul Ricoeur untuk membaca Godlob, menafsirkan dialektika peristiwa dan makna serta simbol kejahatan seperti noda, dosa, dan kebersalahan. Pendekatan Ricoeur, yang berpangkal pada gagasan bahwa simbol “memberi untuk dipikirkan” dalam The Symbolism of Evil (1967), cocok untuk prosa yang kaya lambang seperti milik Danarto.
Sementara itu, penelitian pada cerpen “O, Jiwa yang Edan” dalam jurnal Kajian Linguistik dan Sastra Universitas Muhammadiyah Surakarta menyoroti dimensi sufistik, termasuk penggunaan unsur pewayangan. Hal ini menunjukkan bahwa pola sufistik Danarto tidak berhenti pada satu buku.
Dari ranah kajian mistik, artikel di Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism (vol. 14 no. 2, 2025) tentang tapa dalam Serat Pamoring Kawula Gusti karya Ronggowarsito memberi konteks bagi gagasan manunggaling kawula Gusti dan sastra cetha dalam tradisi sastra Jawa-Islam. Meski tidak membahas Danarto, studi ini membantu pembaca memahami lanskap gagasan yang melatari cerpen-cerpennya.
Ada pula pembacaan filosofis tentang pengalaman mistik. Rudolf Otto dalam Das Heilige (1917, terbit dalam bahasa Inggris sebagai The Idea of the Holy) memperkenalkan konsep numinus, pengalaman akan yang kudus sebagai misteri yang menggentarkan sekaligus memikat. Banyak adegan dalam Adam Ma’rifat terasa menyerupai pengalaman semacam itu: ketakjuban yang mengatasi nalar.
Cara Membaca Adam Ma’rifat: Saran Praktis
Bagi pembaca yang baru pertama kali menghadapi buku ini, beberapa sikap membaca dapat membantu, dengan catatan bahwa saran ini adalah pembacaan penulis artikel dan bukan rumusan baku para peneliti.
Pertama, terima dunia cerita sebagaimana adanya. Para peneliti realisme magis menekankan bahwa unsur gaib dalam karya Danarto tidak diperlakukan sebagai keanehan yang perlu dijelaskan, melainkan bagian dari kenyataan yang lebih luas. Pembaca yang sibuk bertanya “apakah ini mungkin terjadi” akan kehilangan hal yang justru ditawarkan teks.
Kedua, bacalah dengan telinga. Mengingat repetisi yang dicatat Widayati, cerpen-cerpen ini terasa hidup ketika dibaca dengan suara, pelan-pelan, seperti membaca wirid. Cerpen berjudul gambar not balok bahkan secara terang-terangan memainkan bunyi, sehingga membacanya dalam hati berarti melewatkan separuh pengalaman.
Ketiga, perlakukan simbol sebagai pintu, bukan teka-teki yang hanya punya satu kunci. Danarto sendiri menyebut sajiannya sebagai simbol, dan Sawali Tuhusetya menggambarkan cerpen-cerpen itu sebagai “prelogika” yang harus dilogikakan oleh pembaca. Dengan kata lain, tafsir memang diserahkan kepada pembaca, dan tafsir yang berbeda-beda sah selama berpijak pada teks.
Keempat, bacalah bersama konteks. Memahami sedikit tentang manunggaling kawula-Gusti, sangkan paraning dumadi, atau tradisi pewayangan akan membuat banyak adegan terasa lebih terang. Namun konteks hendaknya tidak berubah menjadi kacamata tunggal yang memaksa semua cerita masuk ke satu rumus.
Kelima, beri ruang pada humor dan keriangan. Ulasan pembaca di platform Goodreads atas buku Danarto yang lain menyebut bahwa gaya bertuturnya mengajak berpikir kritis sekaligus menertawakannya. Kesan semacam itu menunjukkan bahwa mistisisme Danarto tidak selalu muram. Ada ruang bermain di sana, dan pembaca dipersilakan ikut bermain.
Relevansi bagi Pembaca Hari Ini
Mengapa buku keluaran awal 1980-an ini masih patut dibaca pada 2026? Setidaknya ada tiga alasan.
Pertama, ia menawarkan cara membaca yang berbeda di tengah budaya yang serba cepat. Cerpen-cerpen Danarto menuntut kesabaran, pengulangan, bahkan kesediaan untuk tidak langsung mengerti. Dalam pembacaan Widayati, repetisi bukan kelemahan, melainkan strategi yang membangun intensitas.
Kedua, ia mempertemukan tradisi dan teknologi tanpa menghakimi. Kehadiran komputer dan robot dalam cerpen-cerpennya menunjukkan bahwa pencarian spiritual tidak harus lari dari zaman. Pertanyaan tentang bagaimana kesadaran manusia berhadapan dengan mesin terasa makin relevan.
Ketiga, ia memberi bahan bagi pendidikan sastra dan karakter. Skripsi Fairuzzabady menegaskan potensi cerpen sebagai medium pendidikan akhlak, sementara penelitian Syahroh melihat pesan akidah, syariah, dan akhlak yang terkandung secara implisit dalam karya Danarto yang lain. Bagi guru dan dosen, Adam Ma’rifat dapat dipakai sebagai pintu masuk untuk berdiskusi tentang simbol, mistisisme, dan keragaman tafsir.
Tentu, pembaca perlu waspada terhadap pembacaan tunggal. Teks Danarto sengaja membuka banyak kemungkinan, dan para peneliti sendiri berbeda penekanan: ada yang menyoroti sufisme, ada yang melihat realisme magis, ada yang membaca absurditas atau stilistika. Keragaman itu justru bukti bahwa bukunya hidup.
Penutup
Adam Ma’rifat bukan buku yang bisa dilahap dalam sekali duduk lalu dilupakan. Enam cerpennya mengajak pembaca melepaskan kategori lama tentang tokoh, waktu, dan realitas, lalu masuk ke dunia ketika Tuhan, manusia, hewan, dan mesin berbagi panggung. Dalam kata-kata Subagio Sastrowardoyo, ia adalah dongeng bagi jiwa yang sudah dewasa.
Bagi pembaca yang ingin memulai, jalan paling aman adalah membaca perlahan, membiarkan simbol bekerja, dan menunda keinginan untuk menafsirkan semuanya sekaligus. Seperti pesan Danarto sendiri, yang tersaji adalah simbol, dan simbol menuntut pembaca ikut mencari.
Daftar Pustaka dan Sumber Pendukung
Sumber utama tentang buku
- Ensiklopedia Sastra Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikdasmen RI. Entri “Adam Ma’rifat”. https://ensiklopedia.kemendikdasmen.go.id/sastra/artikel/Adam_Ma’rifat
- Danarto. (1982). Adam Ma’rifat. Jakarta: Balai Pustaka.
Kritik dan penelitian tentang karya Danarto
- Arianie, dkk. (2020). Aspek sufistik dalam novel Asmaraloka karya Danarto. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 10(2), 203–218. https://ppjp.ulm.ac.id/journal/index.php/jbsp/article/download/9377/6588
- Baihaqi & Imran. Transcendental Approach into Danarto’s Selected Short Stories. KnE Social Sciences. https://knepublishing.com/index.php/KnE-Social/article/view/1925
- Aveling, H. (Ed.). (1975). From Surabaya to Armageddon: Indonesian Short Stories. Singapore: Heinemann Educational Books (Asia).
- Digilib UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Skripsi tentang kepengarangan sufistik Danarto, Bab I (daftar antologi cerpen Danarto). https://digilib.uinsgd.ac.id/126953/8/4_BAB%20I.pdf
- Fairuzzabady, M. (2008). Aspek Mistik Cerpen Danarto dan Relevansinya terhadap Pendidikan Akhlak Tasawuf (Kajian terhadap Kumpulan Cerpen Adam Ma’rifat). Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/888/
- Irmalasari S. (2017). Dialektika Makna Peristiwa dan Simbolisme dalam Kumpulan Cerpen Godlob Karya Danarto (Interpretasi Hermeneutika Paul Ricoeur). Universitas Negeri Makassar. https://eprints.unm.ac.id/5784/
- Jentera: Jurnal Kajian Sastra. (2018). 7(1), 102–129. Kajian realisme magis pada Godlob (Danarto) dan Cala Ibi (Nukila Amal). https://ojs.badanbahasa.kemdikbud.go.id/jurnal/index.php/jentera/article/download/682/453
- Kajian Linguistik dan Sastra (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Dimensi sufistik Danarto dalam cerpen “O, Jiwa yang Edan”. https://journals.ums.ac.id/KLS/article/download/4430/2869
- Subagio Sastrowardoyo. (1989). Tanggapan atas cerpen-cerpen Danarto, sebagaimana dikutip dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia.
- Syahroh, R. L. (2020). Pesan Dakwah dalam Antologi Cerita Pendek “Setangkai Melati di Sayap Jibril” Karya Danarto (Analisis Wacana Teun A. van Dijk). Skripsi, IAIN Kediri. https://etheses.iainkediri.ac.id/1795/
- Tuhusetya, S. (2007). Menguak absurditas cerpen Danarto. https://sawali.info/2007/07/24/menguak-absurditas-cerpen-danarto/
- Widayati, M. (2017). Foregrounding dalam kumpulan cerpen Adam Ma’rifat karya Danarto. Stilistika. DOI: 10.32585/.v3i1.6. https://journal.univetbantara.ac.id/index.php/stilistika/article/view/6
- Wieranto. (1984). Tanggapan atas Adam Ma’rifat, sebagaimana dikutip dalam Ensiklopedia Sastra Indonesia.
Teori dan konteks mistik Jawa-Islam
- Geertz, C. (1960). The Religion of Java. Glencoe: Free Press.
- Mukařovský, J. (1964). Standard language and poetic language. Dalam P. L. Garvin (Ed.), A Prague School Reader on Esthetics, Literary Structure, and Style. Georgetown University Press.
- Otto, R. (1917). Das Heilige. (Terj. Inggris: The Idea of the Holy.)
- Ricoeur, P. (1967). The Symbolism of Evil. New York: Harper & Row.
- Schimmel, A. (1975). Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press.
- Shklovsky, V. (1917). Art as technique (defamiliarisasi).
- Shofiullah, A., Zuhri, A., & Gambari, Y. D. (2025). Tapa in Ronggowarsito’s Serat Pamoring Kawula Gusti (1802–1873). Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism, 14(2), 301–322. DOI: 10.21580/tos.v14i2.30175
- Simuh. Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta.
- Todorov, T. (1975). The Fantastic: A Structural Approach to a Literary Genre. Ithaca: Cornell University Press.
- Zamora, L. P., & Faris, W. B. (Eds.). (1995). Magical Realism: Theory, History, Community. Durham: Duke University Press.




Leave a Comment