Budaya sering diperlakukan sebagai hiasan sekolah: tari saat perpisahan, batik pada hari tertentu. Padahal penelitian terbaru menunjukkan budaya bisa menjadi pintu belajar. Ketika pintu itu tertutup, pengetahuan lokal ikut hilang.
Bahasa daerah memperlihatkan taruhannya. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa telah memvalidasi 718 bahasa daerah di Indonesia. Kajian vitalitas terhadap 87 bahasa pada 2018-2019 mencatat 25 bahasa terancam punah, 5 kritis, dan 11 punah. Penyebab utamanya, penutur berhenti memakai bahasa itu dan tidak mewariskannya kepada generasi berikutnya. Program revitalisasi dalam Merdeka Belajar lalu membagi tiga model: model A berbasis sekolah untuk bahasa yang masih kuat seperti Jawa, Sunda, dan Bali; model B untuk bahasa yang rentan; dan model C berbasis komunitas untuk bahasa yang hampir punah. Artinya, bagi bahasa paling terancam, ruang kelas saja tidak cukup.
Penelitian di dalam kelas memberi gambaran yang lebih halus. Rahma M dari Universitas Negeri Makassar (2025) meneliti guru seni budaya di lima sekolah menengah dan menemukan bahwa memasukkan nilai siri’ na pacce dan sipakatau memperkuat identitas serta partisipasi siswa. Hambatannya jelas: media ajar terbatas dan pelatihan guru minim. Di sebuah SD di Bogor, Herawati dan Ryan Dwi Puspita (2026) memakai kue tradisional seperti nagasari dan surabi untuk soal pecahan, dan mendapati siswa lebih siap serta aktif. Namun sampelnya hanya 19 siswa dengan desain kualitatif, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi. Kedua penelitian sama-sama menunjukkan bahwa budaya bekerja paling baik bila dihubungkan langsung dengan materi pelajaran, bukan ditempelkan sebagai acara terpisah. Perbedaan jenjang, mata pelajaran, dan daerah juga menandakan bahwa tidak ada satu resep nasional yang cocok untuk semua, sehingga guru memerlukan ruang untuk menyesuaikan.
Teori membantu membaca temuan ini. Dalam kerangka Pierre Bourdieu, sekolah menghargai modal budaya tertentu, dan siswa yang membawa bekal budaya berbeda berisiko dianggap kurang. Studi Muhammad Amin dan kolega (2025) di madrasah ibtidaiyah Magelang menunjukkan bahwa modal budaya guru, berupa pengetahuan, nilai, dan pengalaman, memengaruhi strategi mengajar. Guru yang kaya modal budaya cenderung lebih inovatif dan adaptif. Gagasan ini sejalan dengan pedagogi relevan budaya yang diperkenalkan Gloria Ladson-Billings: budaya siswa semestinya menjadi sumber belajar, bukan hambatan. Ki Hajar Dewantara sudah lebih dulu menekankan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan bangsa.
Di sinilah kontradiksi kebijakannya. Menurut Sekretariat Negara, muatan lokal dalam Kurikulum Merdeka bertujuan memperkuat identitas budaya dan nilai lokal lewat seni budaya dan kearifan lokal. Namun keterangan resmi itu tidak menyajikan data capaian, sehingga kita belum tahu seberapa jauh tujuan tersebut tercapai. Sementara itu skor matematika PISA 2022 Indonesia hanya 366, dan tekanan untuk mengejar numerasi berisiko menggeser budaya ke pinggir kurikulum. Padahal etnomatematika menunjukkan keduanya bisa bertemu di satu pelajaran.
Tiga langkah patut dipertimbangkan. Pertama, pelatihan guru dan penyediaan media ajar berbasis budaya setempat, karena kedua hal itulah yang paling sering disebut sebagai hambatan. Kedua, penelitian dengan sampel lebih besar dan kelompok pembanding agar klaim dampaknya teruji. Ketiga, pelibatan keluarga dan komunitas, terutama untuk bahasa yang sekolah tidak mampu menyelamatkannya sendirian. Budaya bukan beban tambahan bagi kurikulum, melainkan cara agar belajar terasa bermakna bagi anak yang tumbuh di dalamnya.




Leave a Comment