YOGYAKARTA, — Kumpulan cerita pendek Adam Ma’rifat karya Danarto (1941–2018) masih terus dibaca dan dikaji lebih dari empat dekade setelah terbit. Buku setebal 72 halaman terbitan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1982 itu memuat enam cerita yang mempertemukan malaikat, penari, komputer, hingga Tuhan dalam satu panggung cerita.
Berkat buku ini, Danarto menerima Hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 1982. Judul kumpulan diambil dari salah satu cerpen di dalamnya.
Keenam cerpen ditulis dalam rentang 1975 hingga 1981. Judulnya adalah “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat”, “Adam Ma’rifat”, “Megatruh”, “Lahirnya Sebuah Kota Suci”, dan “Bedoyo Robot Membelot”. Satu cerpen lain memakai gambar not balok dengan tanda bunyi “ngung-ngung” dan “cak-cak-cak” sebagai judul dan tidak mencantumkan tanggal penulisan. Sampul bukunya menampilkan kuda bersayap berkepala perempuan berambut panjang yang bermahkota.
Dunia gaib dalam bentuk dongeng
Menurut Ensiklopedia Sastra Indonesia, isi keenam cerpen berhubungan dengan dunia gaib dan pengalaman mistik yang diungkapkan sebagai dongeng. Ada cerita tentang malaikat Jibril yang menghadirkan dunia anak-anak, tentang Adam Ma’rifat sebagai wujud pengetahuan akan kehidupan hakiki, tentang tafsir kota suci, dan tentang hakikat tarian Bedoyo.
Dalam cerpen bergambar not balok, bukan hanya roh yang dapat merasuki penari kecak. Komputer pun dapat membuat orang kesurupan. Waktu dan peristiwa saling bertukar tempat seakan tidak ada urutan, sehingga kejadian yang sungguh-sungguh dan yang tidak sungguh-sungguh berbaur secara rancu.
Kritikus Subagio Sastrowardoyo (1989) menyebut cerpen-cerpen itu sebagai dongeng buat orang dewasa. Menurut dia, dongeng tersebut lahir dari renungan Danarto ke dalam cermin batinnya sebagai manusia Indonesia yang dibesarkan dalam alam pikir kejawen. Kejawaan itu bukan yang membeku dalam pola adat yang ketat, melainkan yang masih resah bergerak untuk menemukan kembali wawasan hidup yang kekal.
Subagio juga mencatat bahwa dalam cerita Danarto, logika dan rasio tidak berlaku sebagaimana biasa. Batas antara individu dan identitas dirinya menjadi kabur. Manusia, hewan, benda mati, bahkan zat kimia saling bertegur sapa, dan Tuhan turut menjadi pelaku.
Akar pandangan panteistik
Menurut Subagio, cara bercerita itu berakar pada pandangan filsafat-religius yang melihat segala sesuatu, hidup maupun mati, tampak maupun tak tampak, sebagai perwujudan Yang Mahatunggal. Pandangan ini sejalan dengan konsep manunggaling kawula-Gusti dalam mistik Jawa, yakni bersatunya hamba dengan Tuhan.
Wieranto (1984) menyebut Adam Ma’rifat sebagai wirid modern. Ia menilai teknik penyajian yang tak lazim dalam buku itu harus dibaca sebagai tanda yang perlu diberi makna. Danarto sendiri, dalam salah satu wawancaranya, menyatakan bahwa yang ia sajikan adalah simbol-simbol.
Pengarang yang lama dikenal
Danarto lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 27 Juni 1941. Selain menulis, ia aktif di dunia seni, termasuk drama dan tata rias dekorasi. Cerpen-cerpennya, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”, dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat”, lebih dahulu dimuat di majalah Horison.
Karyanya juga masuk dalam antologi From Surabaya to Armageddon (1975) yang disusun Harry Aveling, sehingga dikenal pembaca berbahasa Inggris. Dalam sebuah wawancara yang terarsip daring, Danarto mengakui pengaruh tokoh sufi seperti Rumi dan Rabi’ah al-Adawiyah dalam tulisannya.
Dikaji dari berbagai sudut
Buku ini telah menjadi bahan penelitian dari berbagai pendekatan. Mukti Widayati (2017) dalam jurnal Stilistika meneliti foregrounding pada judul dan bahasa dalam kumpulan ini. Ia menemukan banyak repetisi kata, frasa, kalimat, hingga paragraf yang berfungsi memperkuat pesan sekaligus menghadirkan kesan magis.
Moh. Fairuzzabady dalam skripsinya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2008) mengkaji aspek mistik dalam Adam Ma’rifat dan relevansinya bagi pendidikan akhlak tasawuf. Penelitian kepustakaan dengan pendekatan filsafat itu menyimpulkan bahwa cerpen-cerpen Danarto menggambarkan pengalaman ma’rifat, yaitu pengenalan langsung seorang hamba kepada Tuhan.
Kajian lain di Jentera: Jurnal Kajian Sastra (2018) memeriksa unsur realisme magis dalam cerpen-cerpen Danarto dalam kumpulan Godlob. Studi itu menyimpulkan bahwa realisme magis tersebut bertumpu pada filosofi mistik Jawa, seperti sangkan paraning dumadi, mulih mulanira, dan manunggaling kawula-Gusti.
Bukan bacaan sekali duduk
Bagi pembaca yang baru mengenal Danarto, buku ini menuntut kesabaran. Ceritanya tidak mengikuti alur yang runtut, dan simbolnya tidak selalu memiliki satu jawaban. Para peneliti pun menekankan sudut yang berbeda: ada yang menyoroti sufisme, ada yang melihat realisme magis, ada pula yang membaca bahasa dan stilistikanya.
Perbedaan itu justru menunjukkan bahwa teks Danarto memberi ruang tafsir yang luas. Subagio menyebut dongeng-dongeng ini ditangkap oleh jiwa dewasa yang sudah tersepuh getirnya pengalaman dan guncangan budaya. Pada akhirnya, pembaca diminta ikut mencari makna bersama sang pengarang.




Leave a Comment