Menatap Tanpa Rasa
- account_circle Boas Sababang
- calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
- visibility 161
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di kota yang ramai oleh manusia
dan sunyi oleh ketulusan,
aku pernah percaya
bahwa cara seseorang memandangku
adalah bentuk cinta paling sederhana.
Ia datang seperti rumah
yang tak pernah kumiliki.
Suaranya menenangkan,
tatapannya hangat,
dan hadirnya perlahan
membuatku lupa cara menjaga hati sendiri.
Aku pikir,
semesta akhirnya memihak kepadaku.
Aku pikir,
setelah begitu banyak kehilangan,
Tuhan akhirnya mengirim seseorang
yang benar-benar ingin tinggal.
Tapi hidup memang pandai bercanda.
Ternyata ia menatapku
bukan karena memiliki rasa,
melainkan hanya karena ia memiliki mata.
Dan aku—
sebodoh itu menerjemahkan perhatian
menjadi cinta.
Padahal tidak semua yang datang dengan nyaman
datang dengan niat menetap.
Ada manusia
yang pandai membuatmu merasa dicintai
tanpa pernah benar-benar mencintai.
Ia menggenggammu
saat dirinya kesepian.
Lalu melepaskanmu
saat hatinya menemukan tujuan lain.
Dan luka paling menyakitkan
bukan ketika ditinggalkan.
Melainkan ketika kita sadar
bahwa selama ini
kita hanya salah paham.
Kukira aku satu-satunya.
Ternyata hanya salah satunya.
Lucu ya?
Seseorang bisa membuatmu merasa istimewa,
sementara di waktu yang sama
ia sedang mengulang perasaan yang sama
kepada orang lain.
Sejak itu aku mengerti,
bahwa sebagian manusia
memang ahli memberi harapan
meski tidak pernah berniat memberi kepastian.
Mereka hadir seperti hujan:
menenangkan saat turun,
namun meninggalkan dingin
setelah pergi.
Dan sekarang,
aku tidak lagi takut kehilangan seseorang.
Aku hanya takut
mengulang kesalahan yang sama:
mengira sedang dicintai,
padahal hanya sedang ditemani
oleh seseorang
yang takut kesepian.
- Penulis: Boas Sababang
- Editor: Redaksi

