Realitas Pahit Mahasiswa PGSD: Terpaksa Kuliah, Takut Jadi Guru
- account_circle Boas Sababang
- calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
- visibility 348
- comment 0 komentar
- print Cetak

Realitas Pahit Mahasiswa PGSD: Terpaksa Kuliah, Takut Jadi Guru
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!
Oleh: Boas Sababang Mahasiswa Semester 2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Sebagai mahasiswa semester dua Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, rutinitas saya setiap hari dipenuhi kesibukan yang padat. Pagi hingga siang mengikuti kuliah, sore hari melaksanakan praktik narakarya Pramuka di salah satu sekolah dasar, malam harinya menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan modul ajar. Di sela-sela itu, saya aktif di organisasi tingkat fakultas dan daerah, terlibat dalam berbagai kepanitiaan kampus, serta ikut aksi sosial bersama himpunan mahasiswa dari universitas lain.
Semua kegiatan ini saya jalani dengan sungguh-sungguh. Namun, di balik kesibukan tersebut, saya — dan banyak teman-teman seperjuangan — menelan realitas yang pahit. Kekhawatiran tentang masa depan terus menghantui: setelah lulus nanti, mau jadi apa?
Menjalani perkuliahan selama dua semester ini, saya mengalami banyak tekanan yang umum dirasakan mahasiswa semester dua. Dosen Pembimbing Akademik (DPA) kami, Pak Apri Damai Sagitta Krissadi, kerap menekankan agar kami “gas poll” mengejar IPK sejak dini. Menurut beliau, IPK yang tinggi dapat mempercepat kelulusan. Meski kami sadar bahwa IPK tidak serta-merta menjamin lapangan pekerjaan yang mudah, setidaknya IPK menjadi tiket untuk membuka pintu rezeki di masa depan. Tekanan ini membuat kami terus berlari, meski kadang tanpa tahu arah yang sebenarnya.
Setiap minggu, tumpukan tugas datang tanpa henti: presentasi, makalah, penyusunan RPP, pembuatan modul ajar, laporan praktikum, hingga observasi lapangan. Beberapa mata kuliah terasa sangat melelahkan. Saya sendiri mengalami pengalaman yang buruk dengan mata kuliah Matematika. Materi seperti statistika dan aljabar terasa sangat sulit dipahami. Saya sering frustrasi karena harus berpikir dua kali lipat hanya untuk mengejar ketertinggalan.
Ironis sekali. Saya yang bercita-cita menjadi guru Sekolah Dasar, justru kesulitan memahami matematika yang kelak harus saya ajarkan kepada anak-anak SD. Rasanya lucu sekaligus memalukan ketika membayangkan suatu saat berdiri di depan kelas, tapi tidak benar-benar menguasai apa yang harus disampaikan. Dari sini saya sadar, menjadi calon guru bukan hanya soal semangat, tetapi juga penguasaan materi yang mendalam.
Strategi yang saya lakukan adalah hadir di setiap pertemuan kuliah tanpa bolos, mengerjakan semua tugas tepat waktu, serta aktif bertanya dan berdiskusi di kelas. Meski demikian, tekanan tetap ada. Banyak mahasiswa PGSD, termasuk saya, kuliah di bidang ini bukan sepenuhnya karena panggilan hati, melainkan karena keterpaksaan — nilai UTBK yang tidak mendukung jurusan impian, keinginan orang tua, atau anggapan bahwa jurusan keguruan adalah pilihan paling “aman”.
Praktik mengajar yang sesungguhnya baru dilakukan pada semester tujuh atau delapan. Artinya, selama enam semester pertama, kami lebih banyak tenggelam dalam teori semata. Akibatnya, ketika menghadapi realitas di sekolah dasar — anak-anak dengan karakter beragam,
orang tua yang demanding, administrasi yang rumit, serta fasilitas yang terbatas — kami sering merasa tidak siap.
Kegelisahan ini semakin menjadi ketika melihat realitas profesi guru saat ini. Gaji guru honorer yang masih sangat rendah, proses seleksi CPNS yang semakin ketat, serta banyaknya lulusan keguruan yang akhirnya beralih profesi menjadi admin, content creator, atau bahkan driver online. Kami bertanya-tanya: apakah empat tahun perjuangan ini hanya akan berakhir dengan ketidakpastian?
Persoalan yang lebih dalam adalah kesenjangan besar antara kurikulum pendidikan guru dengan kebutuhan dunia pendidikan dasar yang sesungguhnya. Kami diajarkan banyak teori, tetapi kurang dibekali keterampilan praktis sejak dini. Padahal, menjadi guru SD membutuhkan kemampuan mengelola kelas, memahami psikologi anak usia dini, berkomunikasi dengan orang tua, serta beradaptasi dengan kemajuan teknologi pendidikan.
Sebagai mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi dan aksi sosial, saya melihat langsung bagaimana anak-anak di sekolah dasar membutuhkan guru yang tidak hanya pintar secara teori, tetapi juga tangguh, kreatif, dan penuh empati. Namun, sistem pendidikan tinggi kita saat ini belum sepenuhnya menyiapkan kami untuk menjadi sosok tersebut.
Oleh karena itu, sudah saatnya terjadi perubahan mendasar. Pertama, kurikulum PGSD perlu direformasi agar praktik lapangan dilakukan jauh lebih awal, minimal mulai semester tiga. Kedua, kampus harus memperbanyak kolaborasi dengan sekolah dasar untuk memberikan pengalaman mengajar yang intensif. Ketiga, pemerintah dan perguruan tinggi perlu menciptakan program yang lebih jelas tentang jalur karir lulusan keguruan, termasuk peningkatan kesejahteraan guru.
Sebagai mahasiswa, kami juga harus proaktif. Tidak cukup hanya mengeluh. Kita perlu mencari pengalaman tambahan di luar kampus — mengajar les, menjadi tutor, atau magang di sekolah. Karena pada akhirnya, gelar sarjana hanyalah bekal yang harus terus diasah.
Saya masih percaya bahwa menjadi guru adalah profesi mulia. Namun, kemuliaan itu tidak akan berarti apa-apa jika kami, calon gurunya, dibiarkan larut dalam ketidaksiapan dan ketidakpastian. Realitas pahit yang kami hadapi hari ini harus menjadi bahan refleksi bersama untuk memperbaiki pendidikan guru di Indonesia.
- Penulis: Boas Sababang
- Editor: Redaksi

