Breaking News
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengapa Negara Membiarkan PTS “Mati” Perlahan? Asimetri Berbahaya di Balik Gemuknya PTN

Mengapa Negara Membiarkan PTS “Mati” Perlahan? Asimetri Berbahaya di Balik Gemuknya PTN

  • account_circle Boas Sababang
  • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
  • visibility 132
  • comment 3 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TERASREPUBLIK.COM, JAKARTA — Lanskap pendidikan tinggi di Indonesia sedang menghadapi ancaman asimetri yang kian mengkhawatirkan. Di satu sisi, Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—terutama PTN Berbadan Hukum (PTNBH)—kian gemuk dan agresif memperluas daya tampung. Di sisi lain, Perguruan Tinggi Swasta (PTS) justru kian tergerus, bahkan ratusan di antaranya terpaksa gulung tikar.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Kajian terbaru menunjukkan adanya pergeseran angka yang sangat jembatan. Porsi mahasiswa baru di PTN melonjak drastis dari 34,4% (2014) menjadi 47,3% (2025). Sebaliknya, pangsa pasar PTS menyusut ke angka 52,7%. Ironisnya, dalam satu dekade terakhir, jumlah PTS di Indonesia merosot tajam dari sekitar 4.300 menjadi hanya 3.000 institusi.

Ini bukan sekadar angka statistik biasa. Di balik penurunan itu, ada ribuan dosen yang kehilangan mata pencaharian dan ratusan ribu mahasiswa daerah yang kehilangan akses pendidikan. Mengapa ekosistem ini menjadi begitu tidak adil?

Tiga “Dosa” Desain Kebijakan yang Menjepit Swasta

Disparitas yang tajam ini bukanlah dinamika pasar murni, melainkan dampak langsung dari kekeliruan desain kebijakan pemerintah yang minim keberpihakan.

1. Ekspansi PTN yang Tanpa Kendali

PTN terus membuka program studi baru dan menambah kuota jalur mandiri (yang mendominasi hingga 50% di PTNBH). Langkah agresif ini menciptakan persaingan yang tidak sehat. Institusi yang disubsidi oleh APBN dipaksa bertarung bebas memperebutkan mahasiswa dengan PTS yang hidupnya murni bergantung pada uang kuliah tunggal (UKT/SPP).

2. Afirmasi Anggaran yang “Salah Alamat”

Meskipun PTS menampung 53% dari total mahasiswa nasional, distribusi bantuan justru timpang. Data Puslapdik 2023 mencatat 72% penerima KIP-Kuliah berada di PTN. Padahal, basis mahasiswa dari keluarga kurang mampu secara riil lebih banyak tersebar di PTS-PTS daerah. Skema riset dan beasiswa LPDP pun setali tiga uang; lebih condong ke kampus negeri.

3. Beban Regulasi yang Seragam (Satu Ukuran untuk Semua)

Pemerintah menerapkan standar akreditasi dan sistem pelaporan (seperti Sister) secara seragam. Bagi PTN, biaya kepatuhan administrasi ini ditanggung negara. Namun bagi PTS kecil di daerah dengan pendapatan di bawah Rp 5 miliar per tahun, urusan administratif ini bisa memotong 15-20% dari total pendapatan mereka.

Redesain Kebijakan: Lima Solusi Menghambat “Kematian” PTS

Agar mimpi Indonesia Emas 2045 tidak menjadi jargon kosong, pemerintah harus segera merombak total kebijakan pendidikan tinggi melalui lima langkah strategis:

  • Mengubah Kompetisi Menjadi Kolaborasi: Negara harus mendorong skema berbagi sumber daya (berbagi sumber daya). PTN dan PTS harus bisa berbagi laboratorium, fasilitas riset, hingga perpustakaan agar kampus swasta kecil tidak terbebani biaya investasi yang masif.
  • Insentif Berbasis Pendampingan: Indikator kinerja dan peringkat PTN seharusnya tidak hanya diukur dari kerja sama luar negeri, tetapi juga dari seberapa besar kontribusi mereka dalam membina dan membesarkan PTS kecil di daerahnya.
  • Menerapkan Pendanaan Berbasis Mahasiswa: Anggaran beasiswa dan hibah penelitian harus mengikuti mahasiswa (money follows student), tanpa memandang apakah mereka kuliah di kampus negeri atau swasta.
  • Regulasi yang Proporsional (Regulasi Proporsional): Mengadopsi rekomendasi OECD (2023), beban regulasi dan akreditasi harus disesuaikan dengan kapasitas dan risiko institusi. Jangan samakan beban administrasi kampus besar dengan kampus kecil di daerah.
  • Membangun Pluralisme Pendidikan: Mengembalikan khitah bahwa pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang memberi ruang setara dan berkeadilan bagi semua sektor.

Catatan Redaksi: PTS adalah mitra strategis pemerintah dalam pemerataan akses pendidikan sejak republik ini berdiri. Membiarkan PTS tumbang sama saja dengan memotong jalur naik kelas bagi anak-anak bangsa di daerah pelosok. (TR/Merah)

Penulis

mahasiswa dan penulis opini di TerasRepublik. Menulis tentang pendidikan, budaya, dan isu publik dengan tujuan membuat gagasan yang rumit terasa lebih dekat, lebih jelas, dan lebih relevan bagi pembaca.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merino Mengirim Spanyol ke Semifinal: Belgia Runtuh oleh Satu Kesalahan, La Roja Hidup dari Ketepatan Waktu

    Merino Mengirim Spanyol ke Semifinal: Belgia Runtuh oleh Satu Kesalahan, La Roja Hidup dari Ketepatan Waktu

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 13
    • 0Komentar

    TERASREPUBLIK.COM – Spanyol melangkah ke semifinal Piala Dunia 2026 dengan cara yang sangat Spanyol: dominan, sabar, lalu mematikan di momen paling akhir. Di SoFi Stadium, Los Angeles, mereka menaklukkan Belgia 2-1 dalam laga perempat final yang menampilkan hampir semua unsur khas sepak bola level elite: kontrol permainan, kebuntuan, gol balasan, pergantian paksa, dan satu kesalahan […]

  • Haaland Hancurkan Brasil, Norwegia Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026

    Haaland Hancurkan Brasil, Norwegia Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Norwegia membuat kejutan besar di babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 setelah menyingkirkan Brasil dengan skor 2-1 di Stadion New York New Jersey, Minggu (5/7). Dua gol Erling Haaland di babak kedua menjadi penentu kemenangan Norwegia, sementara Brasil hanya mampu membalas lewat penalti Neymar pada menit ke-90+. Thank you for reading this post, don’t […]

  • Mengapa Kita Takut? Dari Hoaks "Pocong Berparang" hingga Industri Ketakutan oleh Negara

    Mengapa Kita Takut? Dari Hoaks “Pocong Berparang” hingga Industri Ketakutan oleh Negara

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 101
    • 0Komentar

    TERASREPUBLIK.COM, JAKARTA — Ruang publik digital Indonesia belakangan ini dihebohkan oleh rumor mencekam dari wilayah Tangerang Selatan. Kabar burung menyebutkan sesosok “pocong” berkeliaran pada malam hari, tidak lagi melompat konvensional, melainkan berjalan sambil menenteng senjata tajam. Teror ini sukses membuat warga Ciputat dan sekitarnya didera kecemasan akut hingga takut keluar rumah. Thank you for reading […]

  • ANALISIS INVESTIGATIF & OPINI MENDALAM: KOMEDI HITAM DI PENGADILAN MILITER

    ANALISIS INVESTIGATIF & OPINI MENDALAM: KOMEDI HITAM DI PENGADILAN MILITER

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Hendri Samuel
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe! Menelanjangi Tuntutan Skandal Teror Air Keras Intelijen Negara terhadap Andrie Yunus dan Hegemoni Impunitas yang Meruntuhkan Hukum Publik Diterbitkan pada: Rabu, 3 Juni 2026 DAFTAR ISI 1. PROLOG: ANATOMI CAIRAN KOROSIF DAN RUNTUHNYA MENARA KEADILAN Rabu siang, 3 Juni 2026, di dalam ruang sidang Pengadilan […]

  • Kerikil Tajam Ekonomi Jalanan: Menelanjangi Kepalsuan Angka Makro dan Ambruknya Daya Beli Rakyat di Bawah Tirani Impor

    Kepalsuan Angka Makro, Tirani Impor Menggilas Ekonomi Jalanan

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe! Oleh: Boas Sababang I. Ilusi Panggung Makro Versus Jeritan di Aspal Jalanan Di dalam ruang-ruang rapat ber-AC di segitiga emas Jakarta, para birokrat dan menteri ekonomi rajin memamerkan slide presentasi yang memukau. Angka pertumbuhan ekonomi diklaim stabil, inflasi disebut terkendali, dan grafik investasi dipoles sedemikian […]

  • Tantangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Saat Ini: Antara Tekanan Global, Ketidakpastian Pasar, dan Tuntutan Transformasi Struktur

    Tantangan Ekonomi Indonesia dan Dunia Saat Ini: Antara Tekanan Global, Ketidakpastian Pasar, dan Tuntutan Transformasi Struktur

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Memimpin Ekonomi Indonesia pada 2026 bergerak di tengah dunia yang belum sepenuhnya pulih dari guncangan pandemi, konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan, dan tekanan biaya hidup yang masih terasa di banyak negara. Pada saat yang sama, perekonomian global menghadapi perlambatan pertumbuhan, risiko proteksionisme, perubahan rantai pasok, serta kebutuhan investasi besar untuk transisi energi dan digitalisasi. Bagi Indonesia, […]

expand_less