Breaking News
Trending Tags
Beranda » Opini » Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Melahirkan “Conference Hunter” Palsu?

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Melahirkan “Conference Hunter” Palsu?

  • account_circle H.B. JASSIN
  • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
  • visibility 166
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Dunia akademik Indonesia kembali digegerkan oleh dugaan skandal fabrikasi riset di International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang berlangsung 17–21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark.

Kasus ini mencuat setelah muncul indikasi kuat bahwa sejumlah oknum Indonesia memalsukan data penelitian menggunakan kecerdasan buatan (AI) semata-mata untuk mendapatkan travel grant atau dana perjalanan konferensi internasional.

Fakta yang Mencengangkan

Penelitian yang diklaim dilakukan di Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, hingga Sudan Selatan ini dinilai sangat janggal: tidak ada kolaborator lokal, tidak ada persetujuan etik, dan dua dari tiga penulis utama bukan berlatar belakang kesehatan melainkan sarjana dan magister Matematika dari universitas ternama di Indonesia.

Yang lebih mengejutkan, ketiganya tercatat sebagai mahasiswa berprestasi dengan track record yang moncer serta penerima beasiswa bergengsi. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, mereka diduga telah mengumpulkan puluhan travel grant dari berbagai konferensi medis internasional.

Fenomena “Conference Hunter”

Istilah conference hunter sudah lama dikenal di kalangan akademisi. Cara kerjanya relatif sederhana:

  • Mencari konferensi internasional yang menyediakan travel grant bagi presenter abstrak.
  • Mengirimkan abstrak yang dibuat (atau dibantu AI) agar lolos seleksi.
  • Mendapatkan tiket pesawat, akomodasi, dan uang saku.
  • Ulangi proses tersebut.

Dalam kasus ini, AI generatif semakin mempermudah proses tersebut. Abstrak ilmiah yang meyakinkan bisa dihasilkan dalam hitungan menit.

Akar Masalah: Goodhart’s Law dalam Dunia Akademik

Fenomena ini bukan sekadar kasus moral individu, melainkan konsekuensi logis dari sistem akademik yang berorientasi pada angka.

Pada 1975, ekonom Charles Goodhart mengemukakan apa yang kini dikenal sebagai Goodhart’s Law: “When a measure becomes a target, it ceases to be a good measure.”

Di Indonesia, hukum ini bekerja dengan sangat nyata:

  • Publikasi internasional dijadikan syarat kelulusan dan kenaikan jabatan.
  • Keikutsertaan konferensi internasional menjadi komponen angka kredit.
  • Akibatnya, yang dikejar adalah kuantitas, bukan kualitas riset.

Ketika target sudah berubah menjadi angka semata, maka orang akan mencari cara paling efisien untuk mencapainya — termasuk memanfaatkan AI untuk fabrikasi abstrak.

Budaya Akademik yang Performatif

Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pernah menyatakan bahwa dari lebih 22.000 jurnal ilmiah yang terdaftar di Indonesia, hanya 11 yang terindeks di Q1 Scopus. Angka besar, kualitas minim.

Hal yang sama terjadi pada konferensi. Banyak akademisi lebih sibuk mengumpulkan “bukti keaktifan” daripada menghasilkan pengetahuan yang bermakna. Jurnal dan konferensi berubah dari arena pertukaran ide menjadi mesin administrasi birokrasi.

Akibatnya, muncul dua kelompok besar:

  • Mereka yang masih berusaha melakukan riset sungguhan dengan susah payah.
  • Mereka yang lebih pandai “bermain sistem”.

Biaya Tersembunyi yang Paling Mahal

Seperti disampaikan oleh peneliti Wa Ode Dwi Daningrat yang hadir di Kopenhagen, skandal ini merusak kepercayaan rekan-rekan yang masih menjunjung integritas ilmiah.

Kerusakan terbesar bukan pada tiga orang tersebut, melainkan pada erosi kepercayaan dalam komunitas akademik Indonesia di mata dunia internasional.

Penutup

Kasus Skandal Kopenhagen adalah cerminan paling gamblang bahwa masalahnya bukan semata-mata pada oknum yang serakah, melainkan pada sistem yang mendorong perilaku tersebut.

Selama evaluasi akademik masih berbasis pada kuantitas publikasi dan kehadiran konferensi semata, selama itu pula praktik “kosmetik akademik” akan terus berkembang — dengan atau tanpa AI.

Saatnya kita berani mereformasi sistem akademik Indonesia, dari yang sekadar mengejar angka menjadi yang benar-benar mengejar kebenaran dan kualitas pengetahuan.

  • Penulis: H.B. JASSIN

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prabowo Sambut Hangat Narendra Modi di Istana Merdeka, Indonesia-India Perkuat Kemitraan Strategis

    Prabowo Sambut Hangat Narendra Modi di Istana Merdeka, Indonesia-India Perkuat Kemitraan Strategis

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7), dalam agenda diplomatik yang menandai penguatan hubungan strategis kedua negara. Kunjungan ini menjadi salah satu momen penting dalam hubungan Indonesia–India, terutama karena membawa sejumlah agenda kerja sama konkret di bidang kesehatan, farmasi, pangan, teknologi, hingga restorasi budaya.Merriam-Webster […]

  • RESENSI PUISI: "RAKYAT" (Sebuah Gugatan Retoris Atas Ironi Demokrasi)

    RESENSI PUISI: “RAKYAT” (Sebuah Gugatan Retoris Atas Ironi Demokrasi)

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Judul Puisi Rakyat Tema Utama Kritik Sosial, Manipulasi Politik, dan Ironi Kemanusiaan Gaya Bahasa Naratif-Sarkas, Realisme Sosial, Teologis Fokus Kritik Alih Fungsi Kata “Rakyat” oleh Penguasa & Nasib Massa Marjinal 1. Desain Narasi: Pembalikan Makna yang Satiris Puisi ini dibuka dengan sebuah hantaman konseptual yang berani. Penyair melakukan destruksi makna kata “rakyat”. Di tangan penguasa, […]

  • Proyektil Peluru Militer Bobol UNP, Mahasiswa Jadi Korban Kelalaian SenjataMaut di Ruang Akademik: Menguliti Kelalaian Latihan Militer dan Teror Peluru Nyasar di Kampus UNP

    Peluru Militer Bobol UNP, Mahasiswa Jadi Korban Kelalaian Senjata

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe! Padang, 3 Juni 2026 I. Sore Berdarah di Balik Selebrasi Kelulusan Proposal Selasa sore, 2 Juni 2026, atmosfer di sekitar gedung Rektorat Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, seharusya dipenuhi oleh tawa, jepretan kamera, dan pelukan hangat. Seorang mahasiswi Jurusan Sosiologi baru saja melangkah keluar […]

  • gambar ini menjelaskan betapa runyamnya sebuah kehidupan yang kelam dan sausana yang murung mamabawa kita pada jiwa kematian.

    Telah Gugur Beberapa Nama

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 179
    • 0Komentar

    telah gugur beberapa namatelah guguratas nama kita semuawarga berhati damai yang bertahuntelah diperhambaatas nama jiwa-jiwa agungyang namanya terpahat di hati kita serta atas nama sejarah dan kemanusiaanyang dengan paksa telah dibengkokkantelah gugur beberapa namatelah gugurdan semua yang mengerti akan makna keadilan dan harga dirimengenakan lencana belasungkawa bersama doa di tepi jalanmelepas pawai duka ke pemakaman […]

  • Investigasi UBK dan Pertanyaan tentang Batas Kekuasaan Aparat

    Investigasi UBK dan Pertanyaan tentang Batas Kekuasaan Aparat

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Kasus dugaan tawaran uang Rp 50 juta kepada Ketua BEM FH Universitas Bung Karno (UBK) nonaktif membuka pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar benar atau tidaknya aliran dana. Di balik kronologi pertemuan, bantahan kepolisian, dan pengakuan yang disampaikan dalam forum internal kampus, tersimpan persoalan mendasar tentang batas kewenangan aparat negara dalam mengelola demonstrasi mahasiswa, […]

  • MBG

    Analisis Kritis Kebijakan Makan Bergizi Gratis

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe! Kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki tujuan yang sulit ditolak: memperbaiki gizi anak, mendukung pembelajaran, dan menekan stunting. Namun, di balik tujuan yang baik itu, terdapat persoalan desain, pendanaan, distribusi, dan tata kelola yang membuat program ini rawan menjadi kebijakan populis yang lebih cepat dipuji […]

expand_less