Heboh Rumah di Sleman Mengalami 51 Kali Kebakaran Misterius, UGM Turun Tangan Selidiki Dugaan Gas Metana
- account_circle Boas Sababang
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
- visibility 150
- comment 0 komentar
- print Cetak

Heboh Rumah di Sleman Mengalami 51 Kali Kebakaran Misterius, UGM Turun Tangan Selidiki Dugaan Gas Metana
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TERASREPUBLIK.COM, SLEMAN — Sebuah fenomena langka sekaligus mencengangkan tengah melanda warga di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sebuah rumah milik warga setempat dilaporkan mengalami kebakaran misterius hingga 51 kali hanya dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Titik-titik api sporadis muncul secara tiba-tiba dan membakar berbagai benda di dalam rumah, mulai dari kain, gabus, plastik, hingga material kayu. Kejadian yang meresahkan ini memicu perhatian serius dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga tim akademisi lintas disiplin ilmu.
Kronologi Kejadian: “Hari Ini Saja Sudah Empat Kali”
Penghuni rumah, Mutvia (29), menceritakan betapa mencekamnya situasi di kediamannya. Saat ditemui di lokasi pada Jumat (29/5/2026) siang, ia menyebutkan bahwa api masih terus muncul.
“Kebakaran lagi, hari ini sudah empat kali,” ungkap Mutvia lelah.
Sang ayah, Agus Yani (61), mengenang awal mula teror api tersebut. Peristiwa pertama bermula ketika sebuah kain lap tiba-tiba terbakar habis disertai suara ketukan misterius.
“Di jam itu, terdengar suara seperti ketukan pintu ‘tek-tek’ gitu. Terus anak saya baru selesai menyetrika dan melihat ada api. Saya kira biasa saja, tapi kemudian disusul kebakaran kedua di dekat lokasi yang sama,” tutur Agus.
Enggan Dikaitkan dengan Santet, Keluarga Pilih Jalur Logis
Meski mengundang tanda tanya besar dan rentan dikaitkan dengan narasi mistis seperti santet atau guna-guna, keluarga Agus Yani secara tegas memilih bersikap rasional. Mereka meyakini ada penjelasan ilmiah di balik musibah ini.
Mutvia menjelaskan bahwa benda berpori seperti handuk yang tergantung di gagang pintu kemungkinan menjadi wadah akumulasi gas statis. Terkait kehadiran beberapa “orang pintar” atau tokoh spiritual yang datang ke rumahnya, pihak keluarga mengaku tidak menolak namun tetap menomorsatukan logika.
“Kalau ada yang membantu secara spiritual, ya kami terima sebagai bentuk menghargai niat baik mereka. Tapi secara fisik dan ilmiah, kami sekeluarga lebih percaya ini karena adanya gas metana. Ibaratnya sekarang realistis saja,” tegas Mutvia.
Investigasi Ilmiah: Indikasi Kuat Gas Metana dari Septic Tank dan Rawa
Dugaan keluarga Mutvia diperkuat oleh hasil pengamatan lapangan dari Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY. Kepala Dinas PUPESDM DIY, Anna Rina Herbranti, menyatakan adanya indikasi kuat akumulasi gas organik di lokasi.
“Menurut pengamatan di lapangan, fenomena munculnya titik api sporadis ini dipengaruhi oleh akumulasi gas metana ($CH_4$) yang berasal dari septic tank,” jelas Anna, Sabtu (30/5/2026).
Pencarian sumber gas tidak berhenti di situ. Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, melakukan investigasi lingkungan hingga radius 300 meter dari rumah korban. Di dekat sebuah sungai, tim menemukan singkapan batuan berwarna gelap dengan genangan air yang mengeluarkan gelembung udara.
“Kami lacak ada indikasi gelembung-gelembung gas. Indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa,” ungkap Prof. Basuki.
Mengapa Pakaian dan Sofa Bisa Tiba-tiba Terbakar?
Banyak pihak heran mengapa api bisa membakar baju atau sofa tanpa ada pemantik. Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi, memberikan penjelasan logis berdasarkan pemeriksaan kamera termal.
Sarju memaparkan bahwa material berpori seperti kain pakaian dan sofa memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan gas.
“Ketika gas metana berkumpul di sofa atau pakaian dalam jumlah waktu yang cukup dan volume yang pas, maka ia bisa menyala. Tetapi kalau kandungannya masih sedikit, belum akan menyala,” urai Sarju.
Langkah Penanganan Selanjutnya
Untuk mengantisipasi bahaya lebih lanjut, Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM bersama Pemda DIY telah diterjunkan untuk melakukan observasi lingkungan menyeluruh.
Pihak UGM juga berencana membawa peralatan khusus pada pekan depan guna mengukur kadar gas serta menguji sampel air sumur di sekitar lokasi untuk melihat apakah sudah terkontaminasi oleh gas metana.
Sementara itu, para ahli mengimbau agar sirkulasi udara di dalam rumah tetap dibuka lebar dan dibantu dengan kipas angin. Hal ini efektif untuk menekan kadar akumulasi gas di dalam ruangan sehingga potensi munculnya titik api baru dapat diminimalisir. (TR)
Penulis Boas Sababang
mahasiswa dan penulis opini di TerasRepublik. Menulis tentang pendidikan, budaya, dan isu publik dengan tujuan membuat gagasan yang rumit terasa lebih dekat, lebih jelas, dan lebih relevan bagi pembaca.

