Di balik tawa yang dibatasi
- account_circle Boas Sababang
- calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
- visibility 65
- comment 0 komentar
- print Cetak

Di balik tawa yang dibatasi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dilarang oleh Beijing, Komika Ini Membawa Aktingnya ke Penutur Bahasa Mandarin di Luar Negeri
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!SINGAPURA — Di sebuah auditorium Universitas Nasional Singapura, ratusan penonton tertawa keras ketika komika China, Chizi, melontarkan lelucon tentang masa kepemimpinan Xi Jinping yang panjang. Tepuk tangan, sorakan, dan kata-kata persetujuan bergema di ruangan itu, menandai sesuatu yang di China daratan nyaris mustahil terjadi: tawa atas kekuasaan yang sedang berkuasa.
Bagi sebagian penonton, pertunjukan itu sekadar komedi. Bagi Chizi, itu adalah pernyataan yang jauh lebih besar. Setelah sempat dilarang tampil di China pada 2023, ia kini menjajal panggung di luar negeri, menyapa penutur bahasa Mandarin di Tokyo, Taipei, Kuala Lumpur, dan Singapura. Tur itu bukan hanya comeback profesional, tetapi juga semacam pembuktian bahwa humor masih bisa menemukan tempat ketika panggung domestik menutup pintu.
Kasus Chizi memperlihatkan paradoks yang semakin jelas dalam dunia hiburan China: stand-up comedy berkembang pesat sebagai bentuk ekspresi urban modern, tetapi justru makin mudah berbenturan dengan sensor negara. Di satu sisi, penonton muda di kota-kota besar haus akan humor yang lebih tajam, personal, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, negara menuntut garis aman yang semakin sempit, terutama ketika lelucon menyentuh tentara, nasionalisme, identitas politik, atau figur puncak kekuasaan.
Komedi dan garis merah
Larangan terhadap Chizi pada 2023 bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari gelombang pengetatan yang lebih luas terhadap komedi lisan di China. Pada 2023, seorang komika lain, Li Haoshi atau House, memicu kemarahan publik dan aparat setelah sebuah candaan tentang militer dianggap menghina Tentara Pembebasan Rakyat. Akibatnya, pertunjukan komedi dibatalkan di berbagai kota, perusahaan hiburan didenda besar, dan iklim ketakutan menjalar ke panggung-panggung kecil.
BBC dan berbagai media lain mencatat bahwa tindakan keras itu tidak berhenti pada stand-up semata. Musik live, pertunjukan budaya, dan ruang-ruang hiburan lain ikut terkena dampak karena penyelenggara memilih bermain aman daripada berisiko berhadapan dengan otoritas. Dalam situasi seperti ini, komedi bukan lagi sekadar hiburan, melainkan arena yang diawasi ketat.
Chizi memahami batas itu secara langsung. Ia pernah mengakui bahwa dirinya kini tampil di luar China karena ruang di dalam negeri semakin sempit. Dalam pertunjukan luar negerinya, ia tetap membatasi humor politik, tetapi memberi sedikit lebih banyak kebebasan pada pengalaman pribadi, kritik sosial, dan pengamatan tentang hidup sebagai orang Tionghoa di tengah dunia yang terpecah oleh politik, identitas, dan kontrol negara.
Panggung sebagai pelarian
Fenomena Chizi menarik karena ia menunjukkan bagaimana komedi dapat berpindah fungsi ketika ruang domestik menguncup. Jika di dalam negeri komedi harus tunduk pada aturan dan sensor, maka di luar negeri panggung berubah menjadi tempat yang lebih bebas untuk memperluas makna. Penonton yang berbicara bahasa Mandarin di Taipei atau Singapura, misalnya, menjadi semacam komunitas transnasional yang memungkinkan humor melintasi batas politik negara.
Dalam pengertian itu, Chizi tidak hanya membawa lelucon. Ia membawa pengalaman hidup yang tidak bisa sepenuhnya diucapkan di rumah. Lelucon tentang Xi, sensor, nasionalisme daring, dan pengalaman hidup di bawah kontrol negara mendapat resonansi bukan karena sekadar “berani”, tetapi karena penonton yang hadir memahami konteksnya. Komedi menjadi ruang pengakuan bersama: bahwa ada hal-hal yang hanya bisa ditertawakan ketika orang-orang yang mendengarnya tahu betul risiko di balik tawa itu.
Di titik ini, panggung Chizi juga menegaskan pergeseran penting dalam karier komika modern. Komedi tidak lagi terikat sepenuhnya pada satu negara, apalagi bila bahasa dan komunitasnya meluas ke diaspora. Dalam dunia penutur Mandarin global, panggung Singapura atau Taipei dapat berfungsi sebagai ruang alternatif yang menggantikan fungsi klub komedi di Beijing atau Shanghai.
Humor sebagai tekanan sosial
Untuk memahami mengapa kasus ini penting, kita bisa memakai teori humor klasik dan modern. Dalam teori relief, humor berfungsi sebagai pelepasan tekanan psikologis. Ketika topik politik, sensor, atau ketakutan terlalu berat dibicarakan secara langsung, lelucon menyediakan jalur aman untuk melepaskan kecemasan kolektif. Itulah mengapa tawa bisa terdengar paling keras justru ketika bahan olok-olok menyentuh sesuatu yang sebenarnya menakutkan.
Teori lain, incongruity, menjelaskan bahwa humor muncul dari benturan antara ekspektasi dan realitas. Dalam kasus Chizi, ketegangan terbesar muncul dari fakta bahwa penonton di luar China bisa tertawa atas hal yang di dalam negeri nyaris tak tersentuh. Kontras itu sendiri sudah menjadi lelucon sosial: satu topik yang dibungkam di satu tempat, justru mendapat tepuk tangan di tempat lain. Komedi lahir dari ketidaksesuaian antara apa yang “boleh” dan apa yang “terasa benar untuk diucapkan”.
Ada pula pendekatan superiority, yang melihat tawa sebagai bentuk penilaian atas pihak yang dianggap lebih lemah, konyol, atau dipermalukan. Dalam konteks komedi politik, tawa sering berfungsi sebagai pembalikan kuasa: penonton merasa untuk sesaat lebih bebas daripada otoritas yang biasanya tak tersentuh. Karena itu, candaan tentang pemimpin otoriter bukan semata hiburan; ia juga bentuk simbolik dari penolakan.
Ruang publik yang menyempit
Jika ditarik ke ranah politik, kisah Chizi juga bisa dibaca melalui teori ruang publik Jürgen Habermas. Dalam kerangka ini, ruang publik ideal adalah tempat warga berdiskusi secara rasional tanpa dominasi berlebihan dari negara. Komedi, dalam bentuknya yang paling sehat, adalah bagian dari ruang publik karena ia mengundang kritik, observasi sosial, dan percakapan tentang hal-hal yang memengaruhi hidup bersama.
Namun di China, ruang itu semakin menyempit. Sejumlah laporan BBC, Reuters, dan media internasional lain menunjukkan bahwa setelah berbagai insiden komedi yang dianggap melewati batas, otoritas memperketat pengawasan pada pertunjukan, skrip, dan izin tampil. Dalam kerangka ini, stand-up menjadi bentuk ekspresi yang “diizinkan” hanya sejauh ia tidak benar-benar mengusik struktur kekuasaan.
Hal yang menarik adalah, justru ketika ruang publik domestik menutup diri, ruang publik alternatif muncul di luar negeri. Singapura, Taipei, Tokyo, dan Kuala Lumpur menjadi titik-titik baru bagi penutur Mandarin yang ingin menikmati humor tanpa harus memikirkan sensor lokal. Ini bukan sekadar diaspora budaya, tetapi juga diaspora percakapan. Komedi berpindah bersama orang-orang yang tidak lagi merasa nyaman berbicara di rumah sendiri.
Dari mikrofon terbuka ke larangan
Chizi, yang nama aslinya Wang Yuechi, memulai perjalanan komedinya dari panggung mikrofon terbuka pada 2015. Ia putus sekolah menengah dan masuk ke stand-up dengan energi anak muda yang banyak bicara, gemar membuat orang tertawa, dan merasa berada “seperti ikan di dalam air”. Kariernya melesat ketika ia masuk ke acara bincang-bincang populer dan kemudian menjadi wajah dari dua program streaming yang ditonton luas.
Dalam masa kejayaannya, Chizi dikenal sebagai komika yang memadukan improvisasi, nyanyian, dan gaya bertutur yang penuh “poin kunci”. Ia bisa memancing tawa dengan detail sepele, tetapi juga memasukkan komentar sosial yang tajam. Dalam salah satu kisahnya, ia bahkan menyimpan semua lelucon yang dianggap terlarang dalam folder khusus bertajuk “Hal-hal yang tidak bisa saya katakan” — sebuah arsip kecil tentang masa depan yang belum tentu tiba.
Larangan tampil pada 2023 mengubah lintasan itu. Namun seperti banyak seniman yang tersingkir dari ruang domestik, Chizi justru menemukan khalayak baru di luar negeri. Respons penonton yang terjual habis di Tokyo, Taipei, Kuala Lumpur, dan Singapura menunjukkan bahwa komedi Mandarin memiliki pasar yang lebih luas daripada yang dibayangkan penguasa sensor di Beijing.
Komedi, identitas, dan diaspora
Kisah Chizi juga membuka pertanyaan penting tentang identitas budaya. Bagi penutur Mandarin di luar China, pertunjukan semacam ini bukan hanya soal tawa. Ia adalah tempat bertemu bahasa, pengalaman migrasi, dan ingatan politik yang dibawa dari satu negara ke negara lain. Di sini, komedi berfungsi sebagai jembatan identitas: orang-orang tertawa dalam bahasa yang sama, tetapi mungkin hidup di rezim politik yang berbeda.
Inilah yang membuat pertunjukan di Singapura terasa istimewa. Auditorium dipenuhi orang Tionghoa Singapura dan penonton yang datang dari China atau pernah tinggal di sana. Dalam ruang seperti itu, Chizi tidak perlu menjelaskan terlalu banyak mengapa satu lelucon terasa berbahaya. Semua orang tahu. Justru karena itu tawa menjadi kuat: ia lahir dari pengakuan bersama atas batas-batas yang pernah membungkam mereka.
Seni di bawah bayang negara
Dalam rezim yang ketat, seni sering dipaksa menjadi alat moral dan ideologis. Sejumlah media internasional menggambarkan bagaimana pemerintah China menuntut para seniman agar mempromosikan “moral sosial” dan narasi yang sejalan dengan negara. Dalam situasi seperti itu, komedi kehilangan sebagian fungsi kritisnya dan dipaksa menjadi aman, sopan, serta tidak mengganggu.
Namun sejarah menunjukkan, humor justru paling subur ketika ada tekanan. Di bawah represi, humor sering mengambil bentuk sindiran, isyarat, metafora, dan kode internal yang hanya dipahami kelompok tertentu. Karena itu, ketika Chizi tampil di luar negeri dan melemparkan lelucon yang sedikit lebih tajam, ia sebenarnya sedang mengembalikan komedi ke salah satu fungsi dasarnya: mengatakan kebenaran dengan cara yang membuat orang mau mendengar.
Tawa yang masih mencari ruang
Tur Chizi mungkin belum menjawab semua pertanyaan besar tentang masa depan komedi Mandarin. Apakah ia akan terus bermain aman? Apakah panggung luar negeri cukup untuk menggantikan panggung domestik? Apakah humor berbahasa Mandarin akan semakin bergeser menjadi milik diaspora? Pertanyaan-pertanyaan itu belum punya jawaban pasti.
Yang jelas, kisahnya menunjukkan bahwa tawa tidak pernah benar-benar tunduk selamanya. Ia bisa ditekan, dipersempit, bahkan disensor. Tetapi selama masih ada penonton yang siap mendengar, selalu ada panggung baru yang bisa dibuka. Dalam kasus Chizi, panggung itu bukan lagi gedung pertunjukan di Beijing, melainkan aula penuh penutur Mandarin di luar negeri. Dan di sana, tawa bukan sekadar hiburan; ia menjadi bentuk kecil dari kebebasan
Penulis Boas Sababang
mahasiswa dan penulis opini di TerasRepublik. Menulis tentang pendidikan, budaya, dan isu publik dengan tujuan membuat gagasan yang rumit terasa lebih dekat, lebih jelas, dan lebih relevan bagi pembaca.

