Breaking News
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengapa Kita Takut? Dari Hoaks “Pocong Berparang” hingga Industri Ketakutan oleh Negara

Mengapa Kita Takut? Dari Hoaks “Pocong Berparang” hingga Industri Ketakutan oleh Negara

  • account_circle Boas Sababang
  • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
  • visibility 102
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TERASREPUBLIK.COM, JAKARTA — Ruang publik digital Indonesia belakangan ini dihebohkan oleh rumor mencekam dari wilayah Tangerang Selatan. Kabar burung menyebutkan sesosok “pocong” berkeliaran pada malam hari, tidak lagi melompat konvensional, melainkan berjalan sambil menenteng senjata tajam. Teror ini sukses membuat warga Ciputat dan sekitarnya didera kecemasan akut hingga takut keluar rumah.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Belakangan, aparat kepolisian memastikan kabar tersebut hoaks. Sosok yang dikira hantu mengerikan itu ternyata hanyalah seorang pengamen berkostum.

Namun, bagi para pengamat psikologi sosial, esensi menarik dari fenomena ini bukan lagi soal benar atau salahnya keberadaan makhluk halus tersebut. Fenomena ini menjadi potret nyata tentang bagaimana rasa takut (fear) mampu bergerak dan bereplikasi jauh lebih cepat ketimbang sebuah klarifikasi.

Anatomi Rasa Takut: Mengapa Hoaks Pocong Sangat Efektif?

Dalam ruang media sosial, ketakutan adalah komoditas dengan daya edar (shareability) yang sangat tinggi. Ia tidak membutuhkan verifikasi data yang lengkap untuk dipercaya; ia hanya butuh bentuk yang akrab di memori kolektif masyarakat.

  • Simbolisme Primordial: Di Indonesia, pocong, kain kafan, suasana malam, dan kuburan adalah simbol kematian yang instan dikenali tanpa perlu penjelasan.
  • Pemantik Emosi, Bukan Informasi: Narasi teror ini tidak bekerja secara kognitif (logika), melainkan afektif (emosi). Orang mungkin ragu pada kebenaran beritanya, tetapi rasa tidak aman yang muncul memicu mereka untuk segera membagikannya ke grup-grup WhatsApp keluarga.

Menurut Stuart Hall, seorang pakar budaya, ketakutan adalah sebuah konstruksi sosial. Sesuatu dianggap menakutkan bukan karena sifat alaminya, melainkan karena narasi tersebut terus-menerus direpresentasikan dan diulang (reproduced) sebagai ancaman nyata.

Logika “Pocong” dalam Pengelolaan Negara

Menariknya, logika produksi ketakutan pada kasus hoaks pocong ini memiliki pola yang serupa dengan cara negara atau otoritas kekuasaan mengelola kepatuhan masyarakat di ruang publik.

Dalam karya klasiknya, Escape from Freedom, psikolog sosial Erich Fromm menjelaskan bahwa manusia modern cenderung mengalami kecemasan massal ketika berhadapan dengan kebebasan yang penuh ketidakpastian. Demi mendapatkan rasa aman dan ketertiban, manusia sering kali secara sukarela menyerahkan sebagian kebebasan mereka kepada otoritas yang lebih tinggi.

“Rasa takut memiliki daya magis yang membuat manusia rela dipandu, dibatasi, bahkan dikendalikan.”

Jika produsen hoaks menggunakan simbol mistis seperti “pocong”, maka dalam instrumen negara, simbolisme ketakutan itu dikemas ulang menggunakan jargon-jargon birokratis-politis, seperti:

  1. Stabilitas Nasional
  2. Ketertiban Umum
  3. Ancaman Ideologi
  4. Bahaya Asing

Komparasi Mekanisme Kerja Produksi Ketakutan

Fase MekanismeVersi Hoaks Lokal (Pocong)Versi Politik Makro (Negara)
1. Pembentukan ObjekMenggunakan sosok pocong bersenjata tajam sebagai sumber ancaman fisik.Membingkai kritik, diskusi sejarah, atau aktivisme sebagai “gangguan stabilitas”.
2. Pengulangan NarasiDisebarkan secara masif lewat pesan berantai dan video pendek di medsos.Narasi ancaman diulang lewat pernyataan resmi, media massa, dan serangan digital.
3. Target AkhirWarga memilih mengunci diri di rumah demi keselamatan pribadi.Publik melakukan self-censorship (sensor mandiri) karena takut dicap subversif.

Hegemoni Suasana: Ketika Kritik Dianggap sebagai Gangguan

Dampak paling berbahaya dari industri ketakutan ini adalah lahirnya apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni. Kekuasaan tidak lagi bekerja melalui represi atau kekerasan fisik langsung (seperti pukulan atau gas air mata), melainkan melalui pembentukan cara berpikir.

Masyarakat perlahan digiring untuk percaya bahwa pembatasan hak-hak sipil adalah hal yang wajar dan masuk akal demi menjaga keamanan bersama. Belakangan ini, gejala tersebut kian mengkristal di Indonesia melalui berbagai peristiwa:

  • Pembatalan sepihak diskusi-diskusi ilmiah di lingkungan kampus akibat tekanan kelompok tertentu.
  • Pembubaran pemutaran film alternatif karena pelabelan isu “sensitif”.
  • Stigmatisasi terhadap jurnalis dan aktivis kritis.

Laporan Amnesty International tahun 2026 yang bertajuk “Building Up Imaginary Enemies” bahkan menemukan adanya pola kampanye disinformasi terkoordinasi. Para pengkritik kebijakan pemerintah kerap dilabeli secara peyoratif sebagai agen asing atau antek asing untuk mendelegitimasi substansi kritik mereka di mata publik.

Menyongsong Masa Depan dengan Ketakutan?

Pada akhirnya, fenomena “teror pocong” di Tangerang Selatan adalah metafora sempurna bagi kondisi psikologi sosial bangsa hari ini. Kita mendapati sebuah masyarakat yang sangat mudah digerakkan dan dikontrol oleh simbol-simbol ketakutan sederhana.

Jika atmosfer ketakutan dan kecurigaan ini terus dipelihara dan dianggap normal untuk mengatur masyarakat, maka Indonesia sedang berjalan menuju kerugian kultural yang besar.

Bahaya terbesarnya bukan sekadar hilangnya kebebasan berpendapat, melainkan hilangnya kapasitas kritis publik untuk membedakan mana ancaman yang benar-benar nyata (seperti kemiskinan struktur atau korupsi) dan mana ancaman fiktif yang sengaja diproduksi demi melanggengkan kepatuhan. (TR/Merah)

Tags

Penulis

mahasiswa dan penulis opini di TerasRepublik. Menulis tentang pendidikan, budaya, dan isu publik dengan tujuan membuat gagasan yang rumit terasa lebih dekat, lebih jelas, dan lebih relevan bagi pembaca.

Rekomendasi Untuk Anda

  • guru

    Dari Pikes Peak hingga “America the Beautiful” — jejak guru yang menulis lagu kebangsaan tanpa sengaja

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 29
    • 1Komentar

    MANITOU SPRINGS, Colorado — Pada musim panas 1893, seorang dosen sastra bernama Katharine Lee Bates mendaki Pikes Peak, gunung ikonik di dekat Colorado Springs. Dari puncak setinggi 4.394 meter itu, ia menatap hamparan dataran luas, pegunungan yang berlapis-lapis, dan langit yang seolah membentang tanpa batas — pemandangan yang kemudian mengilhami bait-bait puisi berjudul “America” yang […]

  • Hakim Tolak Intervensi Sidang Praperadilan Roy Suryo

    Hakim Tolak Intervensi Sidang Praperadilan Roy Suryo

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menolak permohonan intervensi yang diajukan oleh Koordinator Tim Hukum Merah Putih (THMP), C. Suhadi, dalam sidang praperadilan yang diajukan oleh tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong terkait ijazah palsu Presiden Joko Widodo, Roy Suryo, Senin (29/6/2026). Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe! Hakim Tunggal […]

  • LA Rams

    Analisis Terkini Kesepakatan Blockbuster: Mengapa LA Rams dan Cleveland Browns Nekat Bertaruh Nasib Lewat Myles Garrett?

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Redaktur: Boas Sababang Thank you for reading this post, don’t forget to subscribe! Selasa, 02 Juni 2026 | 17:24 WIB[cite: 1, 2] LOS ANGELES — Jagat sepak bola Amerika (NFL) diguncang oleh salah satu kesepakatan transfer terbesar dalam sejarah modern (blockbuster trade)[cite: 1, 2]. Los Angeles (LA) Rams secara resmi mengumumkan akuisisi Pemain Bertahan Terbaik […]

  • Maroko Tak Terkalahkan, Kini Dilirik sebagai Kandidat Juara

    Maroko Tak Terkalahkan, Kini Dilirik sebagai Kandidat Juara

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 66
    • 0Komentar

    Maroko Bukan Lagi Dongeng: Dari Negara Kejutan Menjadi Kandidat Serius Juara Dunia Maroko tidak lagi pantas disebut cerita kejutan. Tim ini sudah melampaui status “kuda hitam” dan bergerak menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan serius di Piala Dunia 2026. Kemenangan 3-0 atas Kanada di babak 16 besar, meski tidak selalu memikat secara estetika, memperpanjang rekor tak […]

  • Prabowo Sambut Hangat Narendra Modi di Istana Merdeka, Indonesia-India Perkuat Kemitraan Strategis

    Prabowo Sambut Hangat Narendra Modi di Istana Merdeka, Indonesia-India Perkuat Kemitraan Strategis

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7), dalam agenda diplomatik yang menandai penguatan hubungan strategis kedua negara. Kunjungan ini menjadi salah satu momen penting dalam hubungan Indonesia–India, terutama karena membawa sejumlah agenda kerja sama konkret di bidang kesehatan, farmasi, pangan, teknologi, hingga restorasi budaya.Merriam-Webster […]

  • Mengapa Negara Membiarkan PTS "Mati" Perlahan? Asimetri Berbahaya di Balik Gemuknya PTN

    Mengapa Negara Membiarkan PTS “Mati” Perlahan? Asimetri Berbahaya di Balik Gemuknya PTN

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Boas Sababang
    • visibility 132
    • 3Komentar

    TERASREPUBLIK.COM, JAKARTA — Lanskap pendidikan tinggi di Indonesia sedang menghadapi ancaman asimetri yang kian mengkhawatirkan. Di satu sisi, Perguruan Tinggi Negeri (PTN)—terutama PTN Berbadan Hukum (PTNBH)—kian gemuk dan agresif memperluas daya tampung. Di sisi lain, Perguruan Tinggi Swasta (PTS) justru kian tergerus, bahkan ratusan di antaranya terpaksa gulung tikar. Thank you for reading this post, […]

expand_less